Close | x
kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |
  • USD/IDR14.063
  • SUN95,65 0,01%
  • EMAS677.000 -0,44%
  • RD.SAHAM 0.04%
  • RD.CAMPURAN 0.21%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.04%

Ekonom: Demi jaga stabilitas, kebijakan BI tepat apabila mengikuti kebijakan The Fed

Senin, 11 Februari 2019 / 15:17 WIB

Ekonom: Demi jaga stabilitas, kebijakan BI tepat apabila mengikuti kebijakan The Fed
ILUSTRASI. Pemaparan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kendati berbagai negara mulai melakukan normalisasi kebijakan moneter, Bank Indonesia (BI) akan tetap hawkish mengenai kebijakan suku bunga acuan. Kebijakan ini diambil BI untuk menjaga stabilitas eksternal. Terutama nilai tukar rupiah dan defisit transaksi berjalan.

"Kebijakan bunga dari BI masih akan bergantung pada kondisi inflasi maupun nilai tukar domestik," jelas ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, Senin (11/2).


Sedangkan, Myrdal memperkirakan inflasi pada tahun ini akan berada di bawah 4%. Dengan asumsi produsen mulai melakukan kenaikan harga produk yang tertunda tahun lalu, serta rasionalisasi kebijakan ekonomi yang dilakukan paska kabinet baru terpilih pada akhir tahun.

Sementara nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh arus masuk modal asing alias inflow di pasar keuangan maupun neraca transaksi berjalan yang masih defisit. Sedangkan inflow di pasar keuangan masih banyak berasal dari investasi portofolio. Sehingga nilai tukar rupiah juga masih diperkirakan tidak stabil.

Sehingga untuk menjaga ketahanan eksternal, Myrdal melihat kebijakan BI tepat apabila mengikuti perkembangan kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) alias The Fed. Apalagi dengan kondisi internal seperti yang dipaparkan Myrdal. "Apabila The Fed tidak hawkish, pun demikian dengan BI," ujar Myrdal.

Kebijakan BI masih perlu mengikuti kebijakan The Fed karena berimplikasi pada nilai imported inflation alias inflasi barang impor maupun kebijakan moneter atau fiskal ke depannya. Myrdal memproyeksikan The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini, yang berarti juga akan diikuti oleh BI.

Pengetatan suku bunga BI nantinya akan berpengaruh pada likuiditas perbankan. Apalagi saat banyak terjadi capital outflow alias arus keluar modal asing. Saat kondisi itu terjadi, jelas Myrdal, BI perlu melakukan pelonggaran kebijakan untuk Giro Wajib Minimum (GWM), Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM) dan Penyangga Likuiditas Makroprudensial (PLM).

Reporter: Benedicta Prima
Editor: Azis Husaini

Video Pilihan

TERBARU
Terpopuler
Rumah Pemilu
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0090 || diagnostic_api_kanan = 0.0424 || diagnostic_web = 2.5108

Close [X]
×