kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.039.000   16.000   0,53%
  • USD/IDR 16.780   -43,00   -0,26%
  • IDX 8.255   -67,04   -0,81%
  • KOMPAS100 1.159   -10,14   -0,87%
  • LQ45 837   -6,00   -0,71%
  • ISSI 293   -3,46   -1,17%
  • IDX30 442   -4,07   -0,91%
  • IDXHIDIV20 532   -3,44   -0,64%
  • IDX80 129   -1,03   -0,79%
  • IDXV30 145   -0,84   -0,58%
  • IDXQ30 142   -1,32   -0,92%

Ditengah Ketidakpastian Tarif AS, BKPM Sebut Investasi di Sektor SDA Masih Diminati


Kamis, 26 Februari 2026 / 11:36 WIB
Ditengah Ketidakpastian Tarif AS, BKPM Sebut Investasi di Sektor SDA Masih Diminati
ILUSTRASI. Todotua Pasaribu (KONTAN/Diki Mardiansyah)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Tri Sulistiowati

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pengusaha disebut masih wait and see melihat perkembangan dinamika kebijakan di Amerika Serikat (AS) terkait penerapan tarif. 

Kabar terbaru, Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif resiprokal global Presiden Donald Trump, pada Jumat (20/2/2026). Putusan ini dikeluarkan bertepatan saat pemerintah Indonesia dan AS sepakat menurunkan tarif barang antara dua negara.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu membeberkan, di tengah kondisi tersebut sektor investasi di sumber daya alam (SDA) masih diminati para investor.

“Sektor yang paling banyak diminati sudah pasti adalah sektor yang kaitannya dengan kekuatan SDA kita baik dalam sektor mineral, sektor oil dan gas sektor agrikultur, kehutanan, dan maritime. Ini karena Indonesia punya cadangan SDA yang sangat banyak variasinya,” tutur todotua kepada awak media, Kamis (26/2/2026).

Baca Juga: 160.000 ASN Pensiun, Seleksi CPNS 2026 Kapan Dibuka? Ini Jawaban Menteri PANRB

Ia menjelaskan bahwa dari sisi volume, cadangan (reserve) Indonesia tergolong besar sehingga menjadi salah satu faktor yang paling diminati investor. Selain itu, sektor lain yang juga menonjol adalah hilirisasi karena berkaitan langsung dengan investasi berbasis SDA.

Investasi di sektor logistik juga dinilai penting karena memiliki keterkaitan erat dengan rantai pasok ekonomi, ketika sektor industrialisasi dan manufaktur tumbuh, kebutuhan logistik juga akan meningkat.

Todotua juga menyebutkan bahwa investasi saat ini mengalir ke sektor pariwisata dan teknologi informasi, termasuk pembangunan pusat data yang pertumbuhannya dinilai cukup signifikan.

Di bidang energi hijau, ia mencatat Indonesia memiliki potensi sekitar 3.700 gigawatt yang berasal dari tenaga surya, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), serta panas bumi, dengan kapasitas terpasang panas bumi terbesar kedua di dunia dan potensi yang masih sangat besar. Sektor-sektor tersebut dinilai sebagai yang paling diminati investor.

Meski demikian, ia menekankan bahwa tantangan utama dalam investasi adalah bagaimana pihaknya mampu menghadirkan iklim investasi yang baik, kondusif, kompetitif, dan berkelanjutan, sehingga investor yakin menanamkan modalnya di dalam negeri.

“Karena jangan sampai SDA di sini, di proses di sini bisa lebih mahal daripada proses di negara lain. Ini yang menjadi PR besar bagi kita. Karena ini juga akan berkaitan dengan demand consume daripada negara kita itu sendiri,” tandasnya.

Sebelumnya, Ketua Umum, Apindo, Shinta W Kamdadi menegaskan bahwa pelaku usaha masih akan wait and see melihat perkembangan dinamika kebijakan di AS terkait penerapan tarif ini.

"Perencanaan tahun berjalan akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, diversifikasi pasar, serta penguatan efisiensi internal, sembari menunggu kepastian arah kebijakan dan perkembangan di AS," kata Shinta pada Kontan.co.id, Minggu (22/2/2026). 

Shinta menekankan bahwa keputusan MA AS  yang membatalkan sebagian kebijakan tarif sebelumnya dan menggantinya dengan tarif 10% akan menjadi perkembangan penting bagi dunia usaha. 

Shinta mengakui kondisi ini menimbulkan ketidakpastian baru bagi dunia usaha. Dia menegaskan bahwa kepastian hukum adalah hal yang terpenting bagi dunia usaha.

"Karena itu, kami mendukung pendekatan pemerintah yang terus memonitor perkembangan dan menjaga komunikasi bilateral agar tidak terjadi vacuum of clarity yang dapat mengganggu perencanaan perdagangan dan investasi," jelas Shinta.

Baca Juga: KPK Buka Peluang Pantau 1.179 SPPG Polri

Selanjutnya: BRI Optimistis Tahun 2026 Lebih Baik, Bidik Pertumbuhan Kredit 7%-9%

Menarik Dibaca: Jadwal Tukar Uang Baru BI Jogja Periode 2, Catat Tanggal Pentingnya!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×