kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.765.000   -24.000   -0,86%
  • USD/IDR 17.676   -60,00   -0,34%
  • IDX 6.319   -52,18   -0,82%
  • KOMPAS100 832   -10,94   -1,30%
  • LQ45 631   -4,14   -0,65%
  • ISSI 225   -2,77   -1,22%
  • IDX30 360   -1,39   -0,38%
  • IDXHIDIV20 449   1,48   0,33%
  • IDX80 96   -1,08   -1,12%
  • IDXV30 124   -0,84   -0,68%
  • IDXQ30 118   0,53   0,46%

Webinar Nasional GNIK dan IHCBS 2026 Ajak Civitas Academica Bangun Kampus Berdampak


Rabu, 20 Mei 2026 / 16:27 WIB
Webinar Nasional GNIK dan IHCBS 2026 Ajak Civitas Academica Bangun Kampus Berdampak
ILUSTRASI. Kontan - IHCBS Kilas Online (Dok. IHCBS/IHCBS)


Reporter: Tim KONTAN | Editor: Ridwal Prima Gozal

KONTAN.CO.ID - Gerakan Nasional Indonesia Kompeten (GNIK) dan Indonesia Human Capital Beyond Summit (IHCBS) 2026 bersama Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III menggelar Virtual Sharing Session bertema “Strategic Leadership in Higher Education: Membangun Kampus Adaptif, Unggul, dan Berdampak di Era Perubahan” pada Rabu, 20 Mei 2026. Webinar nasional ini diikuti oleh ribuan civitas academica perguruan tinggi dari seluruh Indonesia.

Kegiatan ini menjadi ruang diskusi strategis mengenai tantangan kepemimpinan pendidikan tinggi saat perguruan tinggi menghadapi perubahan yang sangat cepat dan dinamis. Disrupsi teknologi, perkembangan kecerdasan buatan, perubahan kebutuhan dunia kerja, hingga tuntutan masyarakat terhadap kualitas lulusan mendorong perguruan tinggi terus bertransformasi agar mampu menjadi institusi yang adaptif, unggul dalam mutu, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, industri, serta pembangunan bangsa dan negara.

“Pemimpin perguruan tinggi saat ini dituntut memiliki visi yang kuat, kemudian juga harus memiliki kemampuan berkolaborasi. Keberanian mengambil keputusan serta tentunya kecakapan dalam membangun budaya inovasi di lingkungan kampus,” ujar Dr. Henry Togar H. Tambunan, S.E., M.A selaku Kepala LLDIKTI Wilayah III saat menyampaikan keynote speech.

Dalam sesi diskusi, Dr. Ir. Naufal Mahfudz, MBA, M.M., menjelaskan terdapat empat fokus area kepemimpinan, yakni strategi, kultur, operasional, serta sumber daya manusia (SDM). Empat hal tersebut menjadi landasan bagi pemimpin untuk mencapai tujuan institusi dan harus dijalankan secara seimbang. 

“Ketika kita menjadi pemimpin, strategi tentu diperhatikan, tetapi jangan lupa detail operasional juga harus kita kuasai. Begitu juga ketika membangun kultur, jangan melupakan talent atau people yang ada,” ujar Kepala Lembaga Kepemimpinan dan Pendidikan Eksekutif (LKPE) IPB ini.

Naufal melanjutkan, dalam konteks pendidikan tinggi, kepemimpinan strategis perlu diterapkan dalam empat hal, yaitu kepemimpinan rektorial, kepemimpinan akademik, tata kelola kolaboratif, dan pengambilan keputusan berdasarkan data.

Rektor berperan sebagai pemimpin strategis yang memberikan arah visi perguruan tinggi. Para dekan, ketua program studi hingga profesor senior membantu rektor sebagai pemimpin dalam menjaga kualitas akademik.

Dalam pengambilan keputusan, pendekatan tata kelola kolaboratif yang menekankan kerja sama berbagai pemangku kepentingan menjadi penting karena universitas adalah organisasi berbasis komunitas ilmiah. Pengambilan keputusan universitas juga harus didasarkan pada analisis data, bukan semata-mata intuisi atau pengalaman.

Perguruan tinggi yang adaptif, imbuh Naufal, memiliki sejumlah karakteristik. Di antaranya, fleksibel terhadap perubahan, responsif terhadap kebutuhan industri, punya tata kelola lincah (agile governance), mengembangkan ekosistem digital, menerapkan pembelajaran hybrid dan terpersonalisasi, serta terus mendorong perbaikan secara berkelanjutan.

Sementara itu, untuk membangun perguruan tinggi yang unggul, ada enam pilar strategis, yakni academic excellence, research excellence, digital transformation, human capital, global partnership, dan governance. Kampus yang unggul akan menjadi kampus yang berdampak. Tidak sekadar menghasilkan dampak akademik, tetapi juga dampak ekonomi, sosial, serta reputasi.

“Masa depan sesungguhnya dimiliki oleh universitas yang adaptif. Jika tidak adaptif tentu akan sulit bertahan dan harus dipimpin oleh strategic leaders,” pungkas Naufal yang juga duduk sebagai steering committee GNIK.

Keterlibatan civitas academica sangat penting dalam diskursus nasional mengenai pengembangan sumber daya manusia. Karena itu, seluruh peserta webinar kali ini juga diajak mengikuti Indonesia Human Capital & Beyond Summit (IHCBS) 2026 yang akan diselenggarakan pada 15–16 September 2026 di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Jakarta, dengan tema “Harnessing Human-Centric AI and Digitalization to Unlock Next-Level Productivity.”

Forum ini diharapkan menjadi ruang dialog strategis antara pemerintah, industri, dan akademisi dalam mendorong transformasi SDM serta peningkatan produktivitas nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×