Reporter: Nur Qolbi, Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah mendorong pasar memperkirakan Bank Indonesia (BI) bakal kembali menaikkan suku bunga acuan.
Pada penutupan perdagangan spot Selasa (19/5/2026), rupiah melemah 0,22% ke level Rp 17.706 per dolar AS.
Ekspektasi kenaikan BI rate tercermin dari konsensus Bloomberg yang menunjukkan 17 analis memproyeksikan suku bunga acuan naik ke level 5%.
Langkah ini dinilai dapat memberi sentimen positif bagi rupiah dan pasar obligasi, meski dampaknya diperkirakan hanya bersifat sementara.
Baca Juga: BI Diprediksi Kerek Suku Bunga Acuan Jadi 5% untuk Redam Pelemahan Rupiah
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong menilai kenaikan BI rate berpotensi mendorong penguatan rupiah dalam jangka pendek sekitar 100 hingga 200 poin.
Namun, penguatan tersebut sangat bergantung pada kondisi global, terutama jika tidak terjadi eskalasi konflik di Timur Tengah dan harga minyak dunia tetap terkendali.
Di pasar obligasi, kenaikan suku bunga dinilai dapat meningkatkan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN).
Chief Economist Pefindo Suhindarto mengatakan kenaikan BI rate ke level 5% berpotensi mendorong kenaikan yield obligasi sehingga imbal hasil pasar surat utang domestik menjadi lebih menarik.
Fund Manager Sucor Asset Management Alvaro Ihsan menyoroti spread yield obligasi pemerintah Indonesia dengan US Treasury yang saat ini semakin tipis.
Baca Juga: Tekanan Rupiah dan Outflow Meningkat, BI Diprediksi Kerek Suku Bunga Jadi 5%
Per 18 Mei 2026, spread tenor lima tahun berada di kisaran 2,5%, sedangkan tenor 10 tahun menyempit menjadi 2,19%.
Menurutnya, kenaikan BI rate dapat memperlebar spread tersebut dan membuka peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar SBN.
Meski demikian, Alvaro menilai ada sejumlah syarat agar investor asing kembali agresif masuk ke pasar obligasi Indonesia.
Faktor yang dinilai penting antara lain meredanya eskalasi perang, membaiknya kondisi fiskal domestik, stabilitas rupiah, prospek peringkat utang Indonesia kembali stabil, serta arah suku bunga global yang lebih jelas.
Di sisi lain, kenaikan suku bunga juga membawa risiko bagi pemegang obligasi. Kenaikan yield dapat menekan harga obligasi di pasar sekunder sehingga meningkatkan potensi capital loss bagi investor.
Suhindarto menilai investor global saat ini masih cenderung berhati-hati di tengah tingginya ketidakpastian pasar. Menurutnya, investor lebih mengutamakan menjaga modal dibanding mengejar imbal hasil tinggi.
Baca Juga: Ini Manfaat dan Risiko Jika BI Kerek Suku Bunga Acuan Demi Jaga Rupiah
Tekanan juga berpotensi muncul di pasar saham. Founder Republik Investor Hendra Wardana mengatakan kenaikan BI rate dapat memicu aksi jual lanjutan, terutama pada saham berbasis pertumbuhan dan sektor yang sensitif terhadap suku bunga.
Kondisi ini diperparah oleh arus keluar dana asing, pelemahan rupiah, dan menurunnya kepercayaan investor.
Tak hanya pasar keuangan, kenaikan suku bunga acuan juga dinilai bisa membebani perekonomian domestik.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede mengatakan bunga tinggi berpotensi menahan pemulihan kredit, meningkatkan biaya dana perbankan, serta menekan konsumsi dan investasi.
Dampaknya diperkirakan paling terasa pada sektor yang bergantung pada pembiayaan seperti UMKM, properti, otomotif, dan industri manufaktur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













