kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.947.000   -7.000   -0,24%
  • USD/IDR 16.802   -28,00   -0,17%
  • IDX 8.283   151,39   1,86%
  • KOMPAS100 1.170   24,60   2,15%
  • LQ45 841   11,56   1,39%
  • ISSI 296   7,44   2,58%
  • IDX30 435   4,36   1,01%
  • IDXHIDIV20 519   0,24   0,05%
  • IDX80 131   2,52   1,96%
  • IDXV30 143   1,32   0,93%
  • IDXQ30 140   0,13   0,10%

DDTC ramal potensi shortfall penerimaan pajak hingga Rp 259 triliun


Selasa, 19 November 2019 / 19:38 WIB
DDTC ramal potensi shortfall penerimaan pajak hingga Rp 259 triliun
ILUSTRASI. DDTC ramal potensi shortfall penerimaan pajak hingga Rp 259 triliun . ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/ama.


Reporter: Yusuf Imam Santoso | Editor: Yudho Winarto

Dari sisi Asia, pelemahan ekonomi China terus melemah di mana perang dagang berkembang menjadi perang mata uang. Di sisi lain krisis politik di Hongkong hingga Jepang dan Korea Selatan yang terlibat perang dagang juga menjadi pengaruh pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Dus, faktor itu membuat sektor pertambangan kembali melempem. Berdasarkan sektor, realisasi penerimaan sektor pertambangan sebesar Rp 47,39 triliun. Angka tersebut terkontraksi 22,1% secara tahunan, sementara pada periode sama tahun lalu mampu tumbuh 66,5%.

Baca Juga: Hipmi: Kenaikan PTKP berdampak negatif terhadap penerimaan negara

Dalam riset itu, Pengamat Pajak DDTC Danu Febrantara, Dea Yustisia, dan Denny Vissaro menegaskan, proyeksi penerimaan pajak yang akurat sangat krusial dalam pengelolaan fiskal suatu negara. Proyeksi penerimaan pajak yang akurat tidak hanya melindungi anggaran negara dari risiko defisit yang berlebihan.

“Tapi juga menjaga reputasi fiskal pemerintah dan keyakinan publik. Dengan demikian, target penerimaan pajak haruslah disertai dengan asumsi atau prasyarat keberhasilan,” sebagaimana dikutip dalam riset tersebut, Selasa (19/11).

DDTC melihat ketersediaan studi proyeksi penerimaan pajak saat ini masih relatif terbatas, terutama pengembangan yang dikhususkan secara kontekstual untuk suatu negara. Padahal, dibutuhkan suatu instrumen proyeksi penerimaan yang terus berkembang dan mampu menyaring data dan informasi yang relevan dan berkualitas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! When (Not) to Invest

[X]
×