kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Cuaca Makkah Capai 40 Derajat, Jemaah Lansia & Disabilitas Diimbau Ibadah di Hotel


Rabu, 06 Mei 2026 / 15:11 WIB
Cuaca Makkah Capai 40 Derajat, Jemaah Lansia & Disabilitas Diimbau Ibadah di Hotel
ILUSTRASI. Cuaca di Arab Saudi (KONTAN/Siti Masitoh)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – MADINAH. Jemaah haji Indonesia, khususnya kelompok lanjut usia (lansia) dan penyandang disabilitas, diimbau untuk melaksanakan salat berjamaah di musala hotel dan tidak memaksakan diri menuju Masjidil Haram. Imbauan ini disampaikan menyusul suhu udara di Makkah yang dalam beberapa hari terakhir menembus lebih dari 40 derajat Celsius.

Pelaksana Bimbingan Ibadah (Bimbad) Daerah Kerja Makkah pada Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Abdul Aziz Siswanto, menyampaikan bahwa keinginan menunaikan salat lima waktu di Masjidil Haram tentu dimiliki seluruh jemaah. Meski demikian, ia mengingatkan agar para jemaah tetap mempertimbangkan kondisi kesehatan dan kemampuan fisik, terutama bagi lansia serta penyandang disabilitas.

Baca Juga: Jangan Paksakan Diri, PPIH Ingatkan Pahala Salat di Hotel Setara di Masjidil Haram

Menurut Siswanto, jika kondisi tubuh tidak memungkinkan, maka cukup salat berjamaah di musala hotel.

“Tadi sudah kami sampaikan, seluruh wilayah Tanah Haram ini memiliki keutamaan Masjid Al-Haram, yaitu kita beribadah salat di sini pahalanya 100 ribu kali," kata Siswanto di Sektor 4 wilayah Syishah-Raudhah, Selasa (5/5/2026).

Menurutnya penting bagi para bimbad yang bertugas di sektor maupun kloter untuk mengedukasi jemaah haji, terutama yang berkebutuhan khusus agar mengutamakan hufzun nafas atau menjaga keselamatan jiwa.

"Jangan sampai kita hanya mengikuti hawa nafsu, kuatirnya kita ibadah itu pemuja setan, bukan pemuja Allah itu. Kenapa? Karena kita memuja nafsu kita. Pengennya ke sana, tiap salat.

Tidak salah, kalau memang fisiknya memungkinkan," kata Siswanto.

Hal senada ditegaskan Kepala Seksi Bimbingan Ibadah (Kasi Bimbad) dan KBIHU Daker Makkah, PPIH Arab Saudi, Erti Herlina. Ia menegaskan, menjaga jiwa itu wajib dan lebih penting daripada memaksakan ke Masjidil Haram saat keadaan cuaca tidak memungkinkan.

Baca Juga: Ini Jadwal Sidang Isbat 1 Dulhizah, Cek Tanggal Idul Adha 2026 Muhammadiyah

"Kita di sini itu mau beribadah, tetapi kalau tanpa aturan itu juga sulit untuk dilaksanakan," kata Erti saat ditemui Tim Media Center Haji (MCH) di Sektor 4 wilayah Raudhah, Makkah, Selasa (5/5/2026).

Sebab, kata Erti, ibadah itu tidak berdiri sendiri, hanya terkait dengan pemahaman ibadah. Namun, kondisi kesehatan, rute, hingga keamanan mesti dipikirkan.

Apalagi, kata Erti, bagi jemaah lansia dan disabilitas serta jemaah yang kurang sehat. Jangan sampai kemudian jemaah kebingungan ketika memaksanan diri ke Masjidil Haram, tapi justru bungung saat mau pulang.

"Walaupun sudah ada bus shalawat, tetap harus dengan bimbingan. Tidak bisa sekali jalan mereka bisa hafal, seperti itu. Nah ini kadang kondisi ini menguras tenaga." kata Erti.

Karena itu, kata Erti, jemaah harus bisa mengatur waktu, kapan bisa salat di Masjidil Haram, kapan cukup salat berjamaah di hotel. "Sekali lagi dengan tetap memperhatikan kesehatan, keamanan dan juga keselamatan," kata Erti menegaskan.

Baca Juga: 47 Kali Berhaji, KH Shodiq Berkisah tentang Ujian dan Kesabaran

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×