Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah terus berupaya memperkuat struktur ekosistem emas nasional dari hulu hingga hilir guna menyokong ketahanan ekonomi domestik.
Langkah strategis ini demi menggenjot kapasitas cadangan devisa emas Bank Indonesia (BI), sekaligus menata tata kelola komoditas tambang berharga tersebut agar lebih optimal di dalam negeri.
Untuk diketahui, berdasarkan data World Gold Council, Indonesia menempati urutan ke 44 dengan cadangan emas di Bank Indonesia sebesar 87,1 ton atau sekitar 7,7% dari cadangan.
Baca Juga: Progres Capai 92%, WSBP Targetkan Gedung Kesehatan POLTERA Rampung Akhir Agustus 2026
Angka ini jauh di bawah Amerika Serikat yang memiliki cadangan emas di Bank Sentralnya sebesar 8.133,5 ton, Jerman 3.349,5 ton, Italia 2.451,8 ton, Prancis 2.437 ton, dan China 2.346,4 ton.
Sementara itu, cadangan emas Indonesia ditaksir mencapai 3.600 ton dengan rata-rata produksi di bawah 100 ton per tahun.
Deputi Bidang ESDM Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Elen Setiadi menilai, cadangan emas Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara tetangga maupun negara maju.
Oleh sebab itu, pembenahan standar hulu hingga kesiapan penyerapan oleh bank sentral menjadi kunci utama dalam membangun fondasi ekosistem yang tangguh.
"Negara ini juga harus punya kapasitas cadangan emasnya semakin meningkat. Dibandingkan China, Amerika, bahkan mungkin Vietnam, Singapura mungkin masih jauh kita (cadangan devisa emas). Tetapi potensi ini, dari sisi hulu kita benerin, sesuai standar internasional LBMA khususnya, traceabillity dan lain sebagainya, kemudian dari sisi hulunya Bank Indonesia bisa menerima ini, tentu dengan penyesuaian dan keadaan yang ada, maka saya rasa ekosistem emas ini akan menjadi lebih kuat," ujarnya dalam acara MINDialogue di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Elen mengungkapkan, potensi nilai kapitalisasi emas nasional saat ini terbilang sangat fantastis di pasar. Keberadaan cadangan devisa berbasis emas di Bank Indonesia dipandang bakal menjadi instrumen penyeimbang (stabilizer) yang ampuh bagi perekonomian nasional ketika terjadi gejolak pasar atau guncangan ekonomi global yang tak menentu.
"Catatan kami, ini kapital emas kita mungkin sekitar 1.800 triliun. Kalau nanti ditambah lagi dengan pengutan cadangan devisa emasnya BI, semakin baik, semakin besar, maka kita ketika ada guncangan dinamika global, guncangan ekonomi, kita punya stabilizer namanya emas selain cadangan devisa," ungkapnya.
Melalui penataan rantai pasok secara komprehensif, pemerintah juga membidik perbaikan tata kelola kegiatan penambangan emas yang selama ini belum teratur. Pembentukan ekosistem dari tingkat penambang hingga pasar keuangan diharapkan mampu menciptakan kepastian hukum, transparansi pasar, serta nilai tambah bagi masyarakat luas dan otoritas moneter.
"Nah ini yang kita harapkan ke depan, ekosistemnya terbentuk, hulu, tengah, hilirnya itu bisa berjalan beriringan dengan pengembangan-pengembangan, saya yakin sumber daya ada yang formal, ada yang tidak formal, ada yang ilegal, ini tertata dengan baik, maka kami yakin ke hulunya juga nanti ke market kemudian masyarakat dan BI ini akan tercipta lebih baik," pungkasnya.
Baca Juga: Stok Beras 5,2 Juta Ton, Pemerintah Klaim Siap Hadapi El Nino
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
