kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.705.000   2.000   0,07%
  • USD/IDR 16.986   -7,00   -0,04%
  • IDX 9.155   21,54   0,24%
  • KOMPAS100 1.262   -1,73   -0,14%
  • LQ45 891   -2,50   -0,28%
  • ISSI 335   1,14   0,34%
  • IDX30 456   0,81   0,18%
  • IDXHIDIV20 539   1,12   0,21%
  • IDX80 140   -0,30   -0,21%
  • IDXV30 149   0,73   0,49%
  • IDXQ30 146   0,28   0,20%

Bursa Deputi Gubernur BI Memanas, Nama Wamenkeu Picu Polemik Independensi


Selasa, 20 Januari 2026 / 09:28 WIB
Bursa Deputi Gubernur BI Memanas, Nama Wamenkeu Picu Polemik Independensi
ILUSTRASI. Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono (Dok/Kemenkeu)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa calon Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) mendadak memantik polemik. Bukan semata soal siapa yang akan menggantikan Juda Agung, tetapi juga soal menguatnya kembali kekhawatiran atas independensi bank sentral. 

Pemicu utamanya adalah masuknya nama Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono dalam daftar calon.

Presiden Prabowo Subianto telah mengirimkan Surat Presiden (Surpres) kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang berisi tiga nama calon Deputi Gubernur BI. Ketiganya akan mengikuti proses uji kelayakan dan kepatutan (fit and proper test) di Komisi XI DPR dalam waktu dekat.

Selain Thomas Djiwandono, dua nama lain yang diajukan adalah Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI Dicky Kartikoyono dan Asisten Gubernur BI Solikin M. Juhro.

Baca Juga: BI Konfirmasi Pengunduran Diri Juda Agung, Proses Penggantian Mengacu UU P2SK

Mereka akan bersaing mengisi posisi yang ditinggalkan Juda Agung, yang resmi mengundurkan diri per 13 Januari 2026.

Masuknya nama Thomas langsung menjadi sorotan tajam. Selain masih aktif menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan, ia juga merupakan keponakan Presiden Prabowo. 

Kombinasi latar belakang fiskal dan kedekatan politik ini dinilai sebagian kalangan berpotensi mengaburkan garis pemisah antara kebijakan fiskal dan moneter.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menilai pencalonan Thomas mencerminkan kecenderungan pemerintah yang semakin agresif mendekati kebijakan moneter. 

“Tentu kita semua bisa menilai bagaimana pemerintah cukup getol mengintervensi sektor moneter melalui BI,” ujarnya.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Dukung Wamenkeu Thomas Jadi Deputi Gubernur BI

Huda menyoroti dua hal krusial. Pertama, tekanan pemerintah agar BI menurunkan suku bunga acuan demi mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus meringankan pembiayaan fiskal. 

Kedua, kehadiran Thomas dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI beberapa waktu lalu, yang menurutnya menimbulkan persepsi campur tangan fiskal dalam forum pengambilan keputusan moneter.

Menurut Huda, masuknya figur yang masih aktif di pemerintahan dan berlatar belakang politik ke jajaran Dewan Gubernur BI berisiko menggerus prinsip independensi bank sentral, yang selama ini menjadi fondasi kredibilitas BI.

Pandangan serupa disampaikan pengamat pasar modal Budi Frensidy. Ia menilai keterlibatan unsur politik dalam struktur BI patut disayangkan. “Sejak dulu BI dikenal relatif steril dari kepentingan politik dan independensinya dijaga ketat dalam merumuskan kebijakan moneter,” ujarnya.

Baca Juga: Ini Tiga Nama Calon Deputi Gubernur BI, Fit and Proper Test Digelar Pekan Ini

Kekhawatiran ini sejatinya bukan hal baru. Sejak diberlakukannya Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK), mandat BI tidak lagi terbatas pada menjaga stabilitas moneter, tetapi juga ikut aktif mendukung pembangunan ekonomi. 

Di atas kertas, pemerintah dan BI menegaskan koordinasi tersebut tidak menghilangkan independensi. 

Namun, bagi sebagian pengamat, arah kebijakan ini menunjukkan keinginan lama pemerintah untuk membuat BI lebih sejalan, bahkan lebih mudah dikendalikan, dalam mendukung agenda fiskal dan program prioritas.

Sentimen pasar pun ikut terpengaruh. Pada perdagangan kemarin, nilai tukar rupiah melemah hingga menyentuh Rp 16.955 per dolar AS. Investor asing juga mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp 708,61 miliar.

Baca Juga: Prabowo Ajukan Tiga Nama Calon Deputi Gubernur BI ke DPR, Ada Thomas Djiwandono

Meski demikian, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menepis kekhawatiran tersebut. Menurutnya, Thomas memiliki kompetensi serta latar belakang pendidikan yang memadai untuk menduduki posisi Deputi Gubernur BI.

Nada serupa disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia menilai masuknya Thomas justru akan memperkaya perspektif kebijakan. “Sudah di fiskal, sekarang kalau masuk ke moneter kan bagus,” ujar Purbaya, Senin (19/1).

Selanjutnya: PTPP Tertekan: Kontrak Baru Turun, Peringkat Utang Disorot

Menarik Dibaca: IHSG Masih Bisa Menguat, Cek Rekomendasi Saham BRI Danareksa Sekuritas Selasa (20/1)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×