Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Indonesia memiliki cadangan bahan bakar minyak (BBM) untuk 20 hari ke depan. Hal itu diungkap oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia.
"Kalau cadangan BBM saat ini masih 20 hari," kata Bahlil, dikutip dari Kontan.
Menurut dia, cadangan minyak itu cukup untuk memenuhi kebutuhan minyak dalam negeri di tengah konflik Timur Tengah antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran.
Sayangnya, konflik di Timur Tengah diperkirakan bakal berlangsung lebih lama setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa militer mereka siap untuk berperang hingga 4–5 pekan ke depan.
“Sejak awal, kami memperkirakan empat hingga lima minggu, tetapi kami memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu," kata dia, dilansir dari Al Jazeera.
Trump menyebut, militer AS memiliki kemampuan untuk bertahan jauh lebih lama dari itu.
Lantas, apa yang bakal terjadi di Indonesia jika perang AS-Israel melawan Iran berlangsung lebih lama?
Baca Juga: Jika Perang Dunia 3 Pecah, Indonesia Disebut Aman, Apa Alasannya?
Membeli minyak dengan harga yang lebih mahal
Pengamat Energi dan Ekonom Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi mengatakan, apabila perang AS-Israel melawan Iran berlangsung lebih lama, maka Indonesia terpaksa membeli minyak dengan harga yang lebih mahal.
Dia menyebut, cadangan BBM dalam negeri yang mampu bertahan dalam 20 hari ke depan adalah cadangan BBM yang dibeli dengan harga sebelum konflik Timur Tengah meletus.
"Kalau perang lebih lama, ya Indonesia terpaksa beli dengan harga yang lebih mahal. Bisa US$ 100.000 per barel," kata Fahmi, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (3/3/2026).
Dia menjelaskan serangan pertama AS-Israel ke Iran saja sudah menyebabkan kenaikan harga minyak dunia menjadi US$ 67.000.
Dilansir dari Reuters, pada penutupan perdagangan 2 Maret 2026, harga minyak mentah Brent naik US$ 4,87 atau naik 6,7% menjadi US$ 77,74 per barel.
Kenaikan tajam ini menyusul pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang mengindikasikan kesiapan mereka untuk menyerang kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz.
Adapun harga minyak mentah WTI naik 4,21 dollar AS atau 6,3 persen menjadi 71,23 dollar AS per barel.
Sementara itu, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M. V. Dumatubun memastikan, ketersediaan energi dalam negeri selama bulan Ramadhan telah dipantau oleh Satgas RAFI.
Baca Juga: Minyak Dunia Tembus US$80, Purbaya: APBN Masih Aman!
"Untuk ketersediaan energi selama Ramadhan dan nantinya bakan ada Satgas RAFI yang dilaksanakan, maka fokus kelancaran arus mudik dan arus balik terpantau siap diamankan," jelasnya, saat dihubungi Kompas.com, Selasa.
Roberth menjelaskan, Satgas RAFI nantinya akan memonitor dan mengevaluasi apabila Indonesia memerlukan langkah-langkah dalam memastikan kelancaran ketersediaan energi di tengah konflik Timur Tengah.
- Harga minyak dunia
- Krisis Energi
- Pasokan Bbm
- krisis listrik
- PHK massal
- daya beli masyarakat
- energi terbarukan
- panel surya
- transisi energi
- hiperinflasi
- harga minyak brent
- Pertamina Patra Niaga
- konflik timur tengah
- Harga Minyak WTI
- Satgas RAFI
- Selat Hormuz
- ekonomi Indonesia 2026
- Dampak ekonomi Indonesia
- cadangan BBM Indonesia
- analisis energi













