kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.668.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.858   36,00   0,20%
  • IDX 6.117   -60,45   -0,98%
  • KOMPAS100 795   -13,93   -1,72%
  • LQ45 599   -10,20   -1,67%
  • ISSI 213   0,20   0,09%
  • IDX30 339   -6,02   -1,75%
  • IDXHIDIV20 415   -6,04   -1,43%
  • IDX80 90   -1,62   -1,76%
  • IDXV30 112   -1,00   -0,89%
  • IDXQ30 108   -1,93   -1,75%

Bila Perang Meluas dan Harga Minyak Makin Mendidih, Pemerintah Perlu Tambah Subsidi


Rabu, 22 November 2023 / 15:41 WIB
Bila Perang Meluas dan Harga Minyak Makin Mendidih, Pemerintah Perlu Tambah Subsidi
ILUSTRASI. Perang Hamas-Israel, menimbulkan kekhawatiran dan memperluas ketidakpastian di Timur Tengah.. REUTERS/Angus Mordant


Reporter: Bidara Pink | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang Hamas-Israel, menimbulkan kekhawatiran dan memperluas ketidakpastian di Timur Tengah. 

Peneliti Ekonomi Senior Chatib Basri mengungkapkan, bila ini terjadi, maka ada kemungkinan harga minyak kembali meroket. 

“Bila perang ini meluas, tidak menutup kemungkinan harga minyak naik. Suplai terganggu, maka harga minyak akan naik,” tutur Chatib dalam acara BTPN Economic Outlook 2024 di Jakarta, Rabu (22/11). 

Baca Juga: Surplus APBN Berlangsung Lebih Lama, Ekonom Beberkan Penyebabnya

Apa yang terjadi di global, tentu akan memberi dampak pada pergerakan harga energi di dalam negeri. Dan tentu saja, memerlukan langkah cepat dari pemerintah. 

Chatib mengutip hasil kajian yang dilakukan Tim Ekonomi Bank Mandiri. Dari hasil kajian tersebut, bila harga minyak mendidih hingga US$ 146 per barel, maka pemerintah mau tak mau harus menambah subsidi. 

Bila pemerintah tidak memberikan tambahan subsidi dan membebankan kenaikan harga tersebut pada masyarakat, maka inflasi akan naik menjadi sekitar 4,5% YoY. 

Baca Juga: Penyaluran KUR Melempem, Laju Kredit Mikro Non Subsidi Justru Ekspansif

Nah, untuk memberikan subsidi, Chatib melihat masih ada ruang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2023. 

“Menimbang, entah ini sebuah keuntungan atau tidak, tetapi hingga September 2023, APBN masih surplus. Sehingga, pemerintah memiliki ruang untuk menyerap beban dari subsidi ke dalam fiskal,” tambahnya. 

Bila pemerintah kembali merogoh kocek untuk menambah subsidi, maka Chatib yakin inflasi tak akan meningkat signifikan. 

 
 
 
 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Langganan Business Insight promo optimal
Kontan Academy
Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value How to Manage Your Gen Z Salespeople?

[X]
×