Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2026 mencapai kisaran 5,7%, dengan mengandalkan kombinasi dorongan stimulus, percepatan belanja negara, serta penguatan pembiayaan bagi sektor industri padat karya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, peluang mencapai target tersebut masih terbuka lebar karena pemerintah memiliki waktu hingga akhir Juni untuk menjaga momentum pemulihan ekonomi.
"Kita akan dorong ke sana (5,7%). Masih ada Mei dan Juni, nanti kita lihat data dan kasih dorongan lagi ke ekonomi," ujarnya kemarin.
Pemerintah, lanjutnya, akan mencermati perkembangan data ekonomi secara berkala sebelum menentukan langkah lanjutan, termasuk membuka ruang pemberian stimulus tambahan jika terjadi perlambatan.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Optimistis Ekonomi Kuartal II Tembus 5,7%
Salah satu opsi yang disiapkan adalah mempercepat realisasi belanja kementerian dan lembaga agar likuiditas segera mengalir ke perekonomian.
Selain itu, pemerintah juga menyiapkan berbagai instrumen stimulus lain, mulai dari penguatan bantuan tunai hingga kebijakan lain yang dinilai efektif menjaga daya beli masyarakat dan aktivitas ekonomi.
Purbaya menilai, kenaikan harga komoditas tidak selalu berdampak negatif terhadap pertumbuhan. Ia mencontohkan harga minyak kelapa sawit (CPO) yang meningkat seiring kenaikan harga minyak global.
Meski berpotensi mendorong penyesuaian harga domestik, dampaknya terhadap ekonomi sangat bergantung pada besaran kenaikan dan respons kebijakan pemerintah. Karena itu, koordinasi lintas kementerian akan diperkuat untuk menjaga stabilitas harga.
Di sisi lain, pemerintah juga mengarahkan fokus pada penguatan sektor riil, khususnya industri padat karya, tanpa menambah stimulus fiskal baru. Strateginya adalah mengoptimalkan program yang sudah berjalan, terutama melalui skema pembiayaan yang lebih kompetitif.
Baca Juga: Kondisi Ekonomi Menantang di Kuartal II-2026, Tiga Hal Perlu Diwaspadai Masyarakat
"Yang utama kita adalah memaksimalkan semua program di perekonomian berjalan dengan baik, bukan menambah stimulus baru," terang Purbaya.
Pemerintah akan lebih aktif berkomunikasi dengan pelaku usaha untuk mengidentifikasi kebutuhan di lapangan, terutama terkait hambatan pembiayaan.
Industri tekstil dan produk turunannya seperti alas kaki menjadi salah satu sektor prioritas karena masih memiliki potensi ekspor, meski menghadapi tantangan akses kredit akibat persepsi sebagai industri yang menurun.
Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah akan mengoptimalkan peran Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dalam menyediakan pembiayaan berbunga rendah, bahkan di bawah tingkat pasar untuk proyek yang dinilai prospektif.
Dukungan juga akan diperkuat melalui PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP).
Ia menegaskan, pemerintah akan terus memperkuat peran sektor swasta sebagai motor utama pertumbuhan ekonomi. "Kalau memang menjanjikan, kita ingin menghidupkan semua industri yang bisa dihidupkan di dalam negeri," ujarnya.
Baca Juga: Ekonomi RI Terancam Melambat Akibat WFH Massal di Kuartal II-2026?
Dengan kombinasi stimulus yang terukur, percepatan belanja, serta dukungan pembiayaan bagi dunia usaha, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi tetap terjaga sekaligus mendorong penciptaan lapangan kerja, terutama dari sektor padat karya, di tengah dinamika ekonomi global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
- harga komoditas
- Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI)
- harga CPO
- pertumbuhan ekonomi Indonesia
- industri tekstil
- industri padat karya
- Ekonomi Indonesia
- Belanja Negara
- Kebijakan Ekonomi
- Stimulus Ekonomi Pemerintah
- Industri Alas Kaki
- Sektor Riil
- Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa
- Pusat Investasi Pemerintah (PIP)
- target ekonomi Q2 2026
- pembiayaan LPEI
- PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI)













