kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.645.000   -50.000   -1,86%
  • USD/IDR 17.867   -20,00   -0,11%
  • IDX 6.394   -55,70   -0,86%
  • KOMPAS100 825   -5,54   -0,67%
  • LQ45 627   -3,56   -0,56%
  • ISSI 224   -2,66   -1,17%
  • IDX30 351   -1,55   -0,44%
  • IDXHIDIV20 428   -1,09   -0,25%
  • IDX80 94   -0,66   -0,69%
  • IDXV30 119   -0,38   -0,32%
  • IDXQ30 111   -0,62   -0,55%

BI: Prospek Ekonomi Global Masih Lemah, Perlu Sinergi Fiskal dan Moneter


Rabu, 19 Agustus 2026 / 14:45 WIB
BI: Prospek Ekonomi Global Masih Lemah, Perlu Sinergi Fiskal dan Moneter
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) melihat prospek perekonomian global masih lemah disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi. (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Bank Indonesia (BI) melihat prospek perekonomian global masih lemah disertai dengan ketidakpastian pasar keuangan yang tetap tinggi.

Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti membeberkan, kondisi ini dipengaruhi berlanjutnya intensitas perang di Timur Tengah yang mendorong harga minyak dan komoditas dunia lainnya kembali naik.

“Pertumbuhan ekonomi dunia 2026 belum kuat yang diprakirakan sekitar 3,0%,” tutur Destry dalam konferensi pers, Rabu (19/8/2026).

Sementara itu, tekanan inflasi global tetap tinggi sekitar 4,5% pada 2026 sehingga mendorong kebijakan moneter global menjadi lebih ketat, termasuk suku bunga kebijakan moneter Amerika Serikat (AS), Fed Funds Rate (FFR) yang diprakirakan naik pada kuartal IV 2026.

Baca Juga: Bank Indonesia Kembali Pertahankan BI-Rate di Level 5,75% Pada Agustus 2026

Disisi lain, Destry juga melihat imbal hasil (yield) US Treasury juga naik dan diprakirakan tetap tinggi seiring menguatnya ekspektasi kenaikan FFR dan defisit anggaran AS yang masih lebar.

Ketidakpastian di pasar keuangan global berlanjut sehingga menahan preferensi investor global terhadap investasi portofolio di negara Emerging Markets dan menyebabkan tetap kuatnya indeks mata uang dolar AS terhadap negara maju (DXY) dan negara berkembang (ADXY).

“Perkembangan ini mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna memperkuat ketahanan eksternal, menjaga stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” kata Destry.

Baca Juga: Kuota BBM Subsidi Dipangkas 58,5% pada 2027, Pengguna Pertalite Bersiap Terimbas

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×