kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Prospek Ekonomi Global Memburuk: BI Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah


Rabu, 22 April 2026 / 15:49 WIB
Prospek Ekonomi Global Memburuk: BI Ungkap Dampak Konflik Timur Tengah
ILUSTRASI. Gubernur BI Perry Warjiyo membeberkan prospek ekonomi global 2026 yang makin suram


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo memperkirakan konflik di Timur Tengah semakin memperburuk prospek ekonomi global.

“Perang di Timur Tengah makin memperburuk prospek ekonomi global,” ujar Perry dalam konferensi pers daring, Rabu (22/4/2026).

Menurutnya, eskalasi konflik tersebut telah mendorong kenaikan harga minyak dan berbagai komoditas dunia, serta memperdalam disrupsi rantai pasok perdagangan antarnegara.

Dampaknya, prospek pertumbuhan ekonomi global pada 2026 diproyeksi melambat menjadi 3,0%, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya sebesar 3,1%.

Baca Juga: Kloter Pertama Jemaah Haji dari Jogja dan Jakarta Pondok Gede Tiba di Madinah

“Prospek pertumbuhan ekonomi dunia 2026 makin melambat menjadi 3,0% dari prakiraan sebelumnya sebesar 3,1%,” ungkap Perry.

Di sisi lain, tekanan inflasi global juga diperkirakan meningkat. BI memproyeksikan inflasi global mencapai 4,2% pada 2026, naik dari perkiraan sebelumnya sebesar 4,1%.

Perry menilai, kenaikan inflasi tersebut akan semakin mempersempit ruang bagi bank sentral global untuk melonggarkan kebijakan moneter, sehingga berpotensi meningkatkan ketidakpastian di pasar keuangan global.

Lebih lanjut, Perry menyebut penurunan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Fed Funds Rate (FFR) diperkirakan akan tertunda, bahkan berpotensi bertahan hingga akhir 2026.

Sejalan dengan itu, imbal hasil (yield) US Treasury terus meningkat, dipengaruhi oleh proyeksi defisit fiskal AS yang lebih besar.

Kondisi tersebut mendorong pergeseran aliran modal global ke instrumen safe-haven, terutama pasar uang AS, seiring meningkatnya preferensi investor terhadap aset aman (flight to safety).

Baca Juga: BREAKING NEWS: BI Pertahankan Suku Bunga Acuan di Level 4,75%

Indeks dolar AS terhadap mata uang negara maju juga terus menguat, sementara mata uang negara berkembang semakin tertekan.

“Memburuknya perekonomian dan pasar keuangan global tersebut mengharuskan penguatan respons dan sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga ketahanan eksternal, memperkuat stabilitas, dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik,” tutup Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×