Reporter: Siti Masitoh | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia melebar pada kuartal II 2026. Defisit tercatat sebesar US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari produk domestik bruto (PDB).
Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, defisit transaksi berjalan tersebut meningkat dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai US$ 3,6 miliar atau 1,0% dari PDB.
Baca Juga: ULN BI Melonjak 72%, Ketergantungan pada Dana Asing Makin Perlu Diwaspadai
"Defisit transaksi berjalan yang lebih tinggi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang diprakirakan temporer," tutur Denny dalam keterangannya, Jumat (21/8/2026).
Denny menjelaskan, pelebaran defisit transaksi berjalan terutama dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca perdagangan minyak dan gas (migas).
Kondisi tersebut terjadi seiring meningkatnya impor minyak di tengah kenaikan harga minyak dunia.
Selain itu, surplus neraca perdagangan nonmigas juga tercatat lebih rendah. Penurunan surplus tersebut dipengaruhi oleh peningkatan impor nonmigas untuk memenuhi kebutuhan kegiatan ekonomi domestik yang masih tinggi.
Defisit transaksi berjalan juga dipengaruhi oleh meningkatnya defisit neraca pendapatan primer seiring kenaikan pembayaran pendapatan primer.
Sementara itu, surplus neraca pendapatan sekunder relatif stabil dibandingkan dengan capaian pada kuartal I 2026.
Baca Juga: Neraca Pembayaran Indonesia Mencatatkan Defisit US$ 900 Juta pada Kuartal II 2026
"Dengan kondisi tersebut, defisit transaksi berjalan pada kuartal II 2026 tercatat sebesar US$ 12,5 miliar atau 3,3% dari PDB," tandas Denny.
BI menilai sejumlah faktor yang mendorong pelebaran defisit transaksi berjalan tersebut bersifat sementara.
Perkembangan transaksi berjalan selanjutnya akan menjadi salah satu indikator yang diperhatikan dalam menjaga keseimbangan eksternal perekonomian Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














