Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) Indonesia diperkirakan akan melebar sepanjang 2026 di tengah perlambatan ekonomi global dan kenaikan harga minyak dunia.
Kepala Ekonom BCA, David Sumual memproyeksikan defisit transaksi berjalan Indonesia tahun ini berada di kisaran 1% terhadap produk domestik bruto (PDB). Sementara itu, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diperkirakan mencatat defisit sekitar 0,7%.
“Perkiraan untuk CAD sekitar 1% PDB defisitnya. Kondisi eksternal terkait perlambatan ekonomi global, terutama China,” ujar David kepada Kontan, Jumat (22/5/2026).
Baca Juga: Dirjen Bea Cukai Tersandung Kasus Suap, Bakal Diganti?
Menurut David, perlambatan ekonomi global, khususnya di China sebagai mitra dagang utama Indonesia, akan menekan kinerja ekspor nasional tahun ini. Ia memperkirakan ekspor Indonesia akan melambat akibat melemahnya permintaan global.
“Perkiraan ekspor juga akan melambat karena faktor global,” katanya.
Selain itu, David menilai dampak kenaikan harga minyak dunia baru akan mulai terasa pada semester II 2026, termasuk terhadap kondisi eksternal Indonesia.
“Kenaikan harga minyak akan mulai kelihatan imbasnya mulai semester II 2026 secara global termasuk di Indonesia,” ujarnya.
Sebelumnya, Bank Indonesia (BI) mencatat defisit transaksi berjalan Indonesia melebar pada kuartal I 2026 di tengah perlambatan ekonomi global dan terganggunya rantai pasok perdagangan dunia.
Pada kuartal I 2026, transaksi berjalan tercatat defisit sebesar US$ 4,0 miliar atau setara 1,1% terhadap PDB. Angka ini lebih tinggi dibandingkan kuartal IV 2025 yang mencatat defisit US$ 2,5 miliar atau 0,7% terhadap PDB.
Baca Juga: Defisit Transaksi Berjalan dan NPI RI Berpotensi Memburuk pada Tahun Ini
Secara tahunan, defisit transaksi berjalan juga meningkat dibandingkan kuartal I 2025 yang hanya sebesar US$ 0,2 miliar.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso mengatakan, melebarnya defisit transaksi berjalan dipengaruhi oleh menurunnya surplus neraca perdagangan nonmigas.
Pada kuartal I 2026, surplus neraca perdagangan nonmigas tercatat sebesar US$ 13,3 miliar, lebih rendah dibandingkan surplus pada kuartal IV 2025 yang mencapai US$ 16,0 miliar.
“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh penurunan kinerja ekspor nonmigas yang lebih dalam dibandingkan kinerja impor nonmigas,” ujar Denny dalam keterangan resminya, Jumat (22/5/2026).
Menurut BI, penurunan surplus neraca perdagangan nonmigas sejalan dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi global serta terganggunya rantai pasok perdagangan antarnegara.
Baca Juga: Rosan Beberkan Alasan Tunjuk Luke Thomas Jadi Dirut Danantara Sumberdaya Indonesia
Selain itu, defisit neraca pendapatan primer juga meningkat akibat kenaikan pembayaran kupon dan bunga.
Sementara itu, Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) pada kuartal I 2026 mencatat defisit sebesar US$ 9,1 miliar, berbalik dari kuartal IV 2025 yang mencatat surplus US$ 6,1 miliar.
Meski demikian, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 tetap tinggi sebesar US$ 148,2 miliar atau setara pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Ke depan, BI memperkirakan defisit transaksi berjalan sepanjang 2026 tetap terjaga rendah dalam kisaran 0,5% hingga 1,3% terhadap PDB.
Bank Indonesia akan senantiasa mencermati dinamika perekonomian global yang dapat mempengaruhi prospek NPI dan terus memperkuat respons bauran kebijakan untuk memperkuat ketahanan eksternal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












