kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.725.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.730   -49,00   -0,28%
  • IDX 6.536   33,99   0,52%
  • KOMPAS100 849   6,62   0,79%
  • LQ45 644   5,15   0,81%
  • ISSI 229   0,48   0,21%
  • IDX30 360   3,28   0,92%
  • IDXHIDIV20 436   3,85   0,89%
  • IDX80 97   0,73   0,76%
  • IDXV30 121   0,49   0,41%
  • IDXQ30 114   0,98   0,87%

ULN BI Melonjak 72%, Ketergantungan pada Dana Asing Makin Perlu Diwaspadai


Jumat, 21 Agustus 2026 / 11:09 WIB
ULN BI Melonjak 72%, Ketergantungan pada Dana Asing Makin Perlu Diwaspadai
ILUSTRASI. Suasana transaksi Surat Berharga Negara (SBN) di Treasury BSI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Utang luar negeri (ULN) Bank Indonesia (BI) melonjak tajam hingga pertengahan 2026.

Kenaikan ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan penurunan cadangan devisa, meski sebagian besar ULN tersebut berfungsi sebagai penyangga untuk meredam tekanan terhadap rupiah.

Berdasarkan laporan BI, posisi ULN bank sentral pada akhir Juni 2026 mencapai US$ 42,46 miliar. Angka ini melonjak 72,11% dibandingkan posisi akhir 2025 yang sebesar US$ 24,67 miliar.

Kenaikan tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Juni 2025, ULN BI hanya meningkat sekitar 2,5%, dari US$ 27,60 miliar pada akhir 2024 menjadi US$ 28,29 miliar.

Baca Juga: BI Catat Arus Modal Asing Masuk US$ 7,98 Miliar ke Pasar RI pada Kuartal II-2026

Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai kenaikan ULN BI berperan sebagai shock absorber untuk menahan tekanan terhadap rupiah sekaligus membatasi penurunan cadangan devisa.

"Tanpa kenaikan tersebut, tekanan terhadap rupiah ataupun cadangan devisa kemungkinan lebih besar," ujar Faiz, Kamis (20/8/2026).

Sementara itu, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, dari total ULN BI sebesar US$ 42,46 miliar, sekitar US$ 16,38 miliar berbentuk surat utang, US$ 17,35 miliar berupa kas dan simpanan milik bukan penduduk, serta US$ 8,73 miliar merupakan alokasi Hak Penarikan Khusus atau Special Drawing Rights (SDR) dari International Monetary Fund (IMF).

Menurut Josua, komposisi tersebut menunjukkan lonjakan ULN BI terutama berkaitan dengan operasi moneter dan arus dana asing ke instrumen BI.

Masuknya dana asing ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), misalnya, memberikan tambahan likuiditas sekaligus membantu meredam tekanan terhadap rupiah. Namun, arus dana tersebut tidak serta-merta meningkatkan cadangan devisa dengan nilai yang sama.

Baca Juga: Risiko Investasi Masih Tinggi, Dana Asing Mulai Tinggalkan Pasar Emerging Market

Pasalnya, BI juga harus menyediakan valuta asing untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pembayaran ULN pemerintah, transaksi eksternal, hingga intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas rupiah.

Dengan demikian, kenaikan ULN BI tidak otomatis berarti cadangan devisa ikut meningkat. Bahkan, kondisi ini menunjukkan masih besarnya ketergantungan stabilitas eksternal pada arus dana asing.

Risiko tersebut semakin perlu dicermati karena 79,4% ULN BI pada Juni 2026 merupakan kewajiban jangka pendek. Dalam kondisi pasar normal, dana tersebut dapat membantu menjaga stabilitas rupiah. Namun, situasinya bisa berubah ketika sentimen global memburuk.

"Jika sentimen global berubah dan investor asing menarik dananya secara bersamaan, tekanan dapat muncul dari dua sisi, yakni pelemahan rupiah dan naiknya kebutuhan cadangan devisa," kata Josua.

Baca Juga: Kemarau Dana Asing di Bursa Saham

Karena itu, penguatan penyangga eksternal tidak cukup hanya mengandalkan arus modal jangka pendek. Indonesia perlu memperbesar sumber devisa yang lebih berkelanjutan melalui peningkatan ekspor, investasi langsung, penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan, serta perbaikan neraca transaksi berjalan.

Dengan strategi tersebut, kebutuhan stabilisasi rupiah dan cadangan devisa diharapkan tidak terlalu bergantung pada dana asing yang sewaktu-waktu dapat keluar dari pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×