kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.720   -165,00   -1,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Belanja Masyarakat Tertahan Jelang Lebaran, Porsi Tabungan Menipis


Kamis, 03 April 2025 / 06:42 WIB
Belanja Masyarakat Tertahan Jelang Lebaran, Porsi Tabungan Menipis
ILUSTRASI. Hasil survei Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan belanja masyarakat tertahan jelang Lebaran di tahun ini


Reporter: Siti Masitoh | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Hasil survei Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan, belanja masyarakat tertahan menjelang Lebaran 2025. Padahal, periode Ramadan dan libur Idul Fitri biasanya ditandai dengan peningkatan signifikan konsumsi masyarakat.

“Kondisi pelemahan konsumsi ini perlu diwaspadai mengingat periode Ramadan dan libur Idul Fitri merupakan salah satu key driver pertumbuhan konsumsi rumah tangga,” tulis laporan Market Lens oleh Mandiri Institute, dikutip Rabu (3/4).

Adapun Mandiri Institute mencatat beberapa konsumsi yang turun. Pertama, Penjualan ritel tumbuh jauh lebih rendah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Hal ini tercermin dari Indeks Penjualan Ritel (IPR) Februari 2025 atau sebulan sebelum periode Lebaran hanya tumbuh 0,8% month-on-month (mom), lebih rendah dibandingkan rata-rata pada periode yang sama tahun 2018-2024 (kecuali 2020) sebesar 12,2% mom.

Apabila dilihat dari khusus pada belanja kelompok pakaian sebagai salah satu barang yang mencerminkan pola belanja Lebaran, pertumbuhannya hanya 0,6%, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 2018-2024 (kecuali 2020) sebesar 23,8%.

Baca Juga: Pertumbuhan Utang Sektor Publik Meningkat, Stabilitas Ekonomi Terancam

Kedua, Mandiri Institute melihat, konsumen cenderung defensif pada Ramadan 2025. Data MSI menunjukkan bahwa kenaikan belanja Ramadan 2025 jauh lebih lambat dibandingkan dua tahun sebelumnya.

Pada minggu kedua Ramadan 2025, belanja tumbuh 3,8% dibandingkan pra-Ramadan, jauh lebih rendah dibandingkan tahun 2023 dan 2024, yakni masing-masing sebesar 7,6% dan 4,6%.

Ketiga, kecenderungan defensifnya konsumen tercermin dari jenis belanjanya. Data survei BPS Susenas (2024) menunjukkan penurunan pengeluaran untuk barang tahan lama sebesar 4,8% yoy dibandingkan tahun 2023.

Lebih lanjut, data MSI mengungkapkan bahwa pada Ramadan 2025, share pengeluaran untuk fesyen menurun menjadi 9,2%, atau turun dari 9,9% pada Ramadan 2024, pengeluaran elektronik turun menjadi 13,5% dari 14% pada Ramadan 2024, dan pengeluaran untuk restoran turun menjadi 16,7% dari 17,9% pada Ramadan 2024.

Keempat, pelemahan konsumsi terjadi di tengah porsi tabungan yang turun signifikan. Data Survei Konsumen BI menunjukkan bahwa porsi tabungan terhadap total pendapatan turun ke level 14,7% pada Februari 2025 (sebulan menjelang Lebaran), angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata 2018-2024 sebesar 16,7%.

“Ini menunjukkan bahwa perlambatan konsumsi terjadi bukan karena peningkatan tabungan melainkan mengindikasikan penurunan pendapatan rumah tangga, yang menyebabkan perilaku pengeluaran yang lebih defensif,” tulis laporan tersebut.

Kelima, aktivitas mudik diperkirakan lebih rendah. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, potensi pergerakan mencapai 146,5 juta orang (52% dari total populasi), 20% lebih rendah dibandingkan prediksi tahun sebelumnya yang mencapai 193,6 juta orang.

Baca Juga: Sri Mulyani Optimistis Libur Lebaran Dongkrak Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Data PT KAI hingga 25 Maret 2025 menunjukkan bahwa penjualan tiket kereta api baru mencapai 2,88 juta tiket (63% dari total kapasitas). Padahal, proyeksi pengguna kereta api antar kota berdasarkan survei Kemenhub mencapai 23,6 juta orang.

Sementara itu, preferensi masyarakat terhadap moda transportasi mudik mengalami perubahan. Tahun ini, mobil pribadi menjadi pilihan utama yakni 23%, diikuti oleh bus 16,9%, kereta api antar kota 16,1%, pesawat 13,5%, dan sepeda motor 8,7%.

Keenam, aktivitas sektor riil melemah. Mandiri Institute melakukan survei terhadap 300 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di kawasan Legian–Seminyak dan Blok M. Dalam enam bulan terakhir, 36% merchant melaporkan penurunan penjualan dan kondisi tidak menentu (volatile).

Proyeksi penjualan untuk tiga bulan ke depan juga dinilai kurang optimis. Melalui wawancara mendalam terhadap 39 merchant terpilih, hampir seluruh responden menyatakan mengalami penurunan penjualan pada kuartal I-2025.

Penurunan rata-rata terdalam terjadi pada segmen hotel sebesar 36%, diikuti oleh fesyen 28%, personal care 25%, minimarket 20%, dan restoran 17%. Terkait tantangan utama yang memengaruhi kinerja usaha, 24% merchant menyebut akibat daya beli pelanggan yang melemah.

Ketujuh, sektor perhotelan tertekan akibat efisiensi anggaran pemerintah. Berdasarkan FGD yang dilaksanakan Mandiri Institute, beberapa hotel bintang 5 di Bali mengandalkan pendapatan sekitar 40-50% utamanya dari MICE (Meetings, Incentives, Conventions, Exhibitions), sehingga turunnya aktivitas MICE berdampak signifikan pada segmen hotel tersebut.

Hal ini mulai terasa pada tahun 2025, yang mana pasca kebijakan efisiensi, hampir semua event yang sudah direncanakan untuk tahun 2025 dibatalkan. Sehingga occupancy rate turun 5-10% dibandingkan periode yang sama 2024.

“Turunnya pendapatan dari MICE pada periode low season pariwisata sangat menekan kinerja industri hotel dan sektor retail terkait di daerah pariwisata,” tulis laporan tersebut.

Mandiri Institute menilai, kebijakan efisiensi anggaran perlu diimbangi dengan akselerasi belanja Pemerintah yang lain dengan mempertimbangkan kondisi sektoral dan wilayah. Daerah yang bergantung pada sektor pariwisata dan aktivitas MICE misalnya, memerlukan pendekatan yang lebih fleksibel.

Efisiensi anggaran juga dapat dilakukan secara bertahap dan disesuaikan dengan musim kunjungan wisata, seperti periode high/peak season (Juni–September setiap tahunnya), untuk tetap memastikan momentum pertumbuhan ekonomi lokal terjaga.

Selain itu, Mandiri Institute juga menilai, perlu dilakukan percepatan belanja Pemerintah dari pos lainnya, misalnya belanja prioritas seperti program Makan Bergizi Gratis dan program perlinsos lainnya, yang berdampak langsung terhadap konsumsi masyarakat. Belanja ini bisa menjaga daya beli dan menggerakkan ekonomi daerah.

Mandiri Institute menilai, periode Ramadan dan Lebaran merupakan momentum penting untuk mendorong konsumsi masyarakat. Maklum pertumbuhan ekonomi nasional sangat ditentukan oleh kondisi konsumsi masyarakat.

Nah, untuk memaksimalkan momentum ini, perluasan insentif dapat difokuskan pada moda transportasi yang menjadi preferensi utama pemudik. Data Kementerian Perhubungan menunjukkan bahwa mobil pribadi dan bus menjadi pilihan utama pemudik.

Karena itu, kebijakan seperti diskon tarif tol atau subsidi bahan bakar untuk angkutan umum darat layak dipertimbangkan sebagai pelengkap kebijakan yang sudah ada. Agar insentif lebih tepat sasaran, waktu peluncuran kebijakan juga perlu dipertimbangkan.

"Karena sebagian besar masyarakat merencanakan mudik sejak satu hingga tiga bulan sebelumnya, pengumuman insentif secara lebih awal akan memberi waktu bagi masyarakat untuk menyesuaikan rencana perjalanan sehingga menjaga momentum konsumsi pada periode mudik Lebaran," usul Mandiri Institute.

Selanjutnya: Anak Usaha BREN Lakukan Transaksi Afiliasi Hingga Rp 1,03 Triliun untuk Ekspansi

Menarik Dibaca: Ramalan Zodiak Keuangan dan Karier Cancer di Tahun 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×