Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengaku bahwa World Bank atau Bank Dunia sempat menyampaikan permintaan maaf terkait proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai terlalu rendah dibanding target pemerintah.
Purbaya menjelaskan, permintaan maaf tersebut disampaikan dalam pertemuannya dalam agenda The 2026 IMF-World Bank Spring Meetings di Washington DC. Amerika Serikat.
Asal tahu saja, World Bank dalam laporannya East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, memperkirakan ekonomi Indonesia akan melambat ke level 4,7% pada 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya yang berada di level 4,8%.
Bahkan, Ia menyebut, proyeksi World Bank yang lebih rendah tersebut bahkan telah dipublikasikan secara resmi sebelum dilakukan diskusi lebih lanjut dengan berbagai pihak.
Baca Juga: Purbaya Tolak Tawaran Pinjaman Utang dari IMF & World Bank: Fiskal RI Masih Aman
"Ada yang bilang pertumbuhan kita cuma 4,7%, itu World Bank kan ya. Begitu ketemu di sana, dia minta maaf tuh. Dia minta maaf karena dipublish sebelum diskusi dengan bosnya di sana," kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).
Menurut Purbaya, kondisi fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih tergolong kuat. Ia menegaskan, tekanan yang terjadi lebih banyak berasal dari faktor global seperti konflik geopolitik, kebijakan moneter ketat, serta ketidakpastian pasar yang kerap diperbesar (noise). “Kondisi kita kuat, kita tidak usah khawatir,” tegasnya.
Dalam sejumlah pertemuan dengan investor besar global, Purbaya mengungkapkan bahwa perhatian utama mereka tertuju pada disiplin fiskal Indonesia, khususnya terkait batas defisit anggaran yang dijaga di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Ia memastikan pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit tersebut agar tidak menembus batas yang telah ditetapkan.
“Mereka tanya apakah defisit mau tembus 3% atau tidak. Saya bilang tidak,” jelasnya.
Baca Juga: Purbaya: RI Tak Butuh Dana IMF, Fiskal Masih Punya Bantalan Rp 420 Ttriliun
Purbaya menilai, kepercayaan investor terhadap Indonesia tetap terjaga karena pemerintah dinilai mampu mengelola kebijakan fiskal secara kredibel. Hal ini diperkuat oleh berbagai reformasi ekonomi yang telah dilakukan sebelum gejolak global terjadi, sehingga memberikan fondasi yang lebih kuat bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga disiplin fiskal dan pengelolaan kas (cash management) yang optimal. Menurutnya, pengelolaan arus kas negara yang baik menjadi kunci agar belanja pemerintah dapat berjalan lancar tanpa hambatan.
“Negara ini hidup dari aliran kas. Kalau dikelola dengan benar, kita bisa melaju cepat, kalau tidak bisa tersendat,” ujarnya.
Dengan kombinasi disiplin fiskal, penguatan reformasi, serta pengelolaan kas yang hati-hati, Purbaya optimistis kondisi APBN Indonesia tetap terjaga di tengah tekanan global yang masih berlangsung.
Baca Juga: Menkeu Purbaya: Indonesia Tidak Butuh Bantuan Pinjaman dari IMF
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













