kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   -20.000   -0,70%
  • USD/IDR 17.500   -30,00   -0,17%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Bambang: 2014 jadi tahun keseimbangan baru ekonomi


Kamis, 10 Oktober 2013 / 11:54 WIB
ILUSTRASI. Cara menurunkan gula darah alami.


Reporter: Margareta Engge Kharismawati | Editor: Dikky Setiawan

JAKARTA. Gejolak perekonomian yang terjadi tahun ini, bukan mustahil akan menjadi cikal bakal wajah perekonomian di tahun depan. Untuk itu, Indonesia harus bersiap menghadapi kondisi ekonomi di tahun 2014.

"Tahun 2014 intinya kita harus siap menghadapi keseimbangan baru," kata Wakil Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dalam outlook ekonomi 2014 bersama CIMB Niaga di Jakarta, Kamis (10/10).

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) tidak akan berada pada level 9.000 seperti yang terjadi pada tahun 2012. Rupiah akan bergerak di level 10.000-11.000, di mana dalam kesepakatan pemerintah dengan Badan Anggaran (Banggar) Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) disepakati di level 10.500.

Bambang melanjutkan, masyarakat harus sadar bahwa era harga komoditas yang melambung tinggi sudah lewat. Tidak seperti pada 2011, ketika Indonesia dihujani aliran dana quantitative easing dari AS yang menyebabkan ekonomi Indonesia terdorong naik dan terjadi lonjakan harga komoditas.

Yang harus jadi fokus ke depan ini adalah bagaimana meningkatkan produksi. Sebab, harga tidak akan bergerak banyak.

Terlebih, kondisi perekonomian global yang juga akan menuju pada keseimbangan baru di tahun depan. Misalnya China. "China tidak kembali ke masa double digit growth. Mereka ke keseimbangan baru yang bagi mereka pertumbuhannya 7%-8%," tandas Mantan Pelaksana Tugas (Plt) Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan ini.

Ini tentu akan berpengaruh terhadap kinerja ekspor Indonesia ke negeri tirai bambu itu. Apalagi, China adalah pangsa ekspor terbesar bagi Indonesia.

Adapun untuk tahun depan sendiri, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi masih bisa mencapai level 6%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×