Reporter: Siti Masitoh | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dalam tiga bulan pertama atau hingga Maret 2025, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah mencatatkan defisit sebesar Rp104,2 triliun, atau setara dengan 0,43% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Meski begitu, keseimbangan primer masih menunjukkan surplus sebesar Rp 17,5 triliun, atau 27,7% dari target defisit sebesar Rp 63,3 triliun.
Peneliti dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (FITRA), Badiul Hadi, menilai bahwa surplus keseimbangan primer yakni selisih antara pendapatan negara (tanpa bunga utang) dan belanja nonbunga merupakan sinyal positif.
Baca Juga: Lihat Situasi Global, Pemerintah Masih Membuka Ruang Penerbitan SBN Valas Tahun Ini
Surplus ini menunjukkan bahwa anggaran negara belum sepenuhnya bergantung pada utang untuk membayar bunga. Meskipun demikian, pemerintah telah menarik utang sebesar Rp 250 triliun.
Namun menurut Badiul, kondisi tersebut bersifat sementara dan cukup rapuh. Oleh karena itu, dibutuhkan kebijakan fiskal yang responsif serta disiplin anggaran yang tinggi agar APBN tetap sehat dan berkelanjutan.
Ia menyebut bahwa surplus keseimbangan primer yang masih bersifat sementara ini akan menghadapi berbagai tantangan hingga akhir tahun.
Beberapa tantangan yang akan dihadapi di antaranya:
Pertama, penerimaan pajak yang masih tertekan. Hal ini disebabkan oleh sektor konsumsi dan industri yang belum sepenuhnya pulih, insentif pajak yang masih berlaku untuk sektor tertentu, serta kepatuhan pajak yang belum optimal.
Baca Juga: Walau APBN Defisit Rp 104,2 Triliun, Keseimbangan Primer Masih Surplus
Hingga Maret 2025, realisasi pendapatan negara mencapai Rp 516,1 triliun atau 17,2% dari target, sedangkan realisasi belanja negara mencapai Rp 620,3 triliun atau 17,1% dari target.
Kedua, pelemahan nilai tukar rupiah akibat penguatan dolar AS di tengah ketidakpastian global. Menurut Badiul, kondisi ini berpotensi menyebabkan bunga utang luar negeri membengkak. Dampaknya, beban fiskal akan meningkat dan dapat mengganggu keseimbangan primer.
Ketiga, ia juga menyoroti tingginya beban belanja negara saat ini, terutama untuk mendanai program-program prioritas nasional, subsidi energi, dan bantuan sosial, yang pada akhirnya akan menambah tekanan terhadap APBN.
Lebih lanjut, Badiul memproyeksikan bahwa apabila pelemahan rupiah terus berlanjut dan penerimaan pajak tidak kunjung membaik, maka pelebaran defisit keseimbangan primer bisa mencapai 10% hingga 30%.
Dengan demikian, defisit keseimbangan primer pada akhir tahun berpotensi menembus Rp82 triliun, melampaui target dalam APBN sebesar Rp63,3 triliun. "Artinya, pemerintah akan kembali menunjukkan ketergantungannya pada utang untuk menutup bunga utang," ujarnya.
Baca Juga: Defisit APBN Maret 2025 Sentuh Rp 104,2 Triliun, Sri Mulyani: Jangan Panik
Secara lebih rinci, Badiul menghitung bahwa jika terjadi pelebaran sebesar 10%, maka defisit keseimbangan primer di akhir tahun akan mencapai Rp 69,9 triliun. Jika pelebaran mencapai 20%, maka estimasi defisitnya bisa berada di kisaran Rp75,96 triliun.