kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.750.000   -18.000   -0,65%
  • USD/IDR 17.741   18,00   0,10%
  • IDX 6.406   -95,98   -1,48%
  • KOMPAS100 833   -14,48   -1,71%
  • LQ45 633   -9,40   -1,46%
  • ISSI 225   -3,43   -1,50%
  • IDX30 354   -4,60   -1,28%
  • IDXHIDIV20 432   -4,21   -0,97%
  • IDX80 95   -1,63   -1,69%
  • IDXV30 120   -1,45   -1,19%
  • IDXQ30 113   -1,10   -0,97%

Zulhas Targetkan 75% Masalah Sampah Indonesia Tuntas pada 2029


Rabu, 26 Agustus 2026 / 18:17 WIB
Zulhas Targetkan 75% Masalah Sampah Indonesia Tuntas pada 2029
ILUSTRASI. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan (KONTAN/Ridwan Nanda Mulyana)


Reporter: Ridwan Nanda Mulyana | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan sejumlah skema dan teknologi untuk mengatasi persoalan sampah nasional.

Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy bukan menjadi satu-satunya solusi untuk menangani timbulan sampah di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan, kontribusi PSEL dalam mengatasi persoalan sampah diproyeksikan hanya mencapai 22,5% dari total timbulan sampah yang diperkirakan mencapai 146.780 ton per hari pada 2029.

Baca Juga: Komisi III DPR Minta Rekening Aktivis Pati Botok Segera Dibuka Kembali

Meski demikian, pria yang akrab disapa Zulhas tersebut menyebut PSEL tetap memiliki peran penting, khususnya dalam menangani persoalan sampah di wilayah perkotaan dan kawasan aglomerasi.

Selain PSEL, pemerintah menyiapkan sejumlah skema pengolahan sampah lainnya.

Pertama, pengolahan sampah organik dari sumber melalui pemilahan sampah rumah tangga. Skema ini ditargetkan mampu mengurangi timbulan sampah sebesar 12,4%.

Kedua, Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R atau Bank Sampah Induk. Pengelolaan sampah dalam skala komunal dengan kapasitas sekitar 5 ton-10 ton per hari tersebut ditargetkan mampu mengurangi 19,8% timbulan sampah.

Baca Juga: Pemerintah Sebut KIP Kuliah 2026 Telah Jangkau 85.390 Mahasiswa dari Wilayah 3T

Ketiga, Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Refuse Derived Fuel (RDF) yang menyasar kawasan industri, khususnya industri semen.

Melalui teknologi ini, sampah diolah menjadi bahan bakar alternatif atau biomassa. Skema tersebut ditargetkan dapat mengurangi 25,3% persoalan sampah.

Keempat, TPST non-RDF, termasuk teknologi pirolisis yang mengolah sampah menjadi bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Skema ini ditargetkan mampu mengurangi timbulan sampah sebesar 20%.

Dalam penerapan teknologi pirolisis, pemerintah juga akan melibatkan TNI Angkatan Darat untuk mengolah sampah lama yang telah menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA).

Zulhas menargetkan kombinasi berbagai skema dan teknologi tersebut dapat menyelesaikan 70%-75% persoalan sampah di Indonesia pada 2029.

"InsyaAllah 2029, 70%-75% bisa kita selesaikan. Dua-tiga tahun ini kita selesaikan. Saya yakin, asal bisa bekerja bersama dengan semua pihak," kata Zulhas saat menghadiri peresmian pembangunan PSEL Kota Bekasi, Rabu (26/8/2026).

Baca Juga: Anggaran PPATK Naik Lebih dari 100%, Fokus pada Penguatan Intelijen Keuangan

Pemerintah Kejar Pembangunan PSEL

Saat ini, salah satu prioritas pemerintah bersama Danantara Indonesia adalah mempercepat pembangunan fasilitas PSEL. Zulhas sebelumnya menargetkan pembangunan fasilitas PSEL di 40 kota yang berstatus darurat sampah.

Pembangunan fasilitas tersebut ditargetkan dapat rampung secara bertahap pada 2027-2028.

"Target Danantara, mudah-mudahan 2027 15 (PSEL) bisa kita selesaikan. Sisanya di 2028. Kalau sampai tahun depan bisa 15 PSEL yang beroperasi, itu sudah bagus sekali," ujar Zulhas.

Baca Juga: Layanan Kesehatan Pascagempa Flores Masih Terganggu, 19 Puskesmas Belum Beroperasi

Sejalan dengan target tersebut, Danantara Indonesia terus memacu realisasi proyek PSEL di sejumlah daerah.

Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir mengatakan Danantara siap merealisasikan program pengolahan sampah menjadi energi listrik tersebut.

Setelah memulai pembangunan PSEL Denpasar Raya pada Juli 2026, Danantara Indonesia melalui PT Danantara Investment Management (DIM) dan PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) resmi memulai pembangunan fasilitas PSEL Kota Bekasi pada Rabu (26/8/2026).

Fasilitas PSEL tersebut berlokasi di Ciketing Udik, Bantar Gebang, Kota Bekasi, Jawa Barat.

Dalam proyek tersebut, Denera menggandeng perusahaan asal China, Wangneng Environment Co. Ltd., melalui Bekasi Environment Nusantara sebagai Badan Usaha Pelaksana Proyek (BUPP).

Nilai investasi proyek PSEL Kota Bekasi mencapai sekitar Rp3 triliun.

Baca Juga: Ramai Masyarakat Protes Desil DTSEN, Pemerintah Janji Perbaiki Data

Dalam rangkaian peresmian pembangunan tersebut, turut dilakukan penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBL) atau Power Purchase Agreement (PPA) dengan PT PLN (Persero).

Perjanjian tersebut menjadi landasan komersial untuk penyerapan listrik yang dihasilkan PSEL Kota Bekasi ke jaringan PLN. Dengan demikian, proyek memiliki kepastian offtake sekaligus mendukung keberlanjutan operasional fasilitas dalam jangka panjang.

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025, listrik yang dihasilkan fasilitas PSEL nantinya akan dibeli dan disalurkan ke PLN. PJBL akan dijalin antara PLN dengan setiap BUPP PSEL dengan harga beli US$0,20 per kWh untuk semua kapasitas.

Adapun fasilitas PSEL Kota Bekasi akan memiliki kapasitas pengolahan hingga 1.500 ton sampah per hari, atau lebih dari 500.000 ton per tahun.

Pandu memperkirakan fasilitas tersebut dapat mulai beroperasi pada akhir 2027 atau awal 2028.

"Kami ekspektasi InsyaAllah akhir 2027 atau awal 2028 sudah selesai. Jadi kami memang ngebut, end to end, dari mulai proses November ini mungkin di bawah 24 bulan sudah selesai, termasuk PPA. Ini masalah krisis sampah, kami coba secepat mungkin," kata Pandu.

Baca Juga: Layanan Kesehatan Nagekeo, NTT Masih Berjalan Darurat Pascagempa

Danantara Siapkan Proyek PSEL Berikutnya

Danantara dan Denera juga telah menyiapkan sejumlah proyek PSEL di kota-kota lainnya.

Pada 20 Juli 2026, DIM menyerahkan Conditional Letter of Award (CLoA) kepada delapan mitra terpilih PSEL tahap kedua.

Pandu menargetkan seluruh tahapan kontrak untuk proyek-proyek tersebut dapat diselesaikan pada kuartal IV-2026.

"Jadi cukup cepat, kurang lebih 4-5 bulan perbedaan antara Fase 1 dan Fase 2. Nanti juga ada tambahan lagi, ada beberapa kota yang akan kami umumkan juga untuk mulai," ujar Pandu.

Menurut dia, delapan proyek tersebut saat ini masih dalam proses penyelesaian, termasuk PPA. Tahapannya akan dilakukan dengan mekanisme yang serupa dengan proyek PSEL Kota Bekasi.

"InsyaAllah kuartal keempat sudah selesai," tandas Pandu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×