kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.598.000   5.000   0,19%
  • USD/IDR 17.761   68,00   0,38%
  • IDX 6.462   25,58   0,40%
  • KOMPAS100 852   2,28   0,27%
  • LQ45 648   1,42   0,22%
  • ISSI 224   1,27   0,57%
  • IDX30 360   1,29   0,36%
  • IDXHIDIV20 450   2,37   0,53%
  • IDX80 97   0,26   0,27%
  • IDXV30 124   0,43   0,35%
  • IDXQ30 116   0,50   0,43%

Bank Indonesia (BI) Diproyeksi Tahan BI Rate 5,75% di September, Ini Indikatornya


Kamis, 17 September 2026 / 20:07 WIB
Bank Indonesia (BI) Diproyeksi Tahan BI Rate 5,75% di September, Ini Indikatornya
ILUSTRASI. Bank Indonesia (BI) diproyeksi kembali menahan suku bunga acuan di level 5,75% pada pertemuan September 2026 (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kepala Ekonom Maybank Indonesia Juniman mengatakan, Bank Indonesia (BI) tidak perlu mengikuti langkah Federal Reserve (The Fed) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps).

Menurutnya, BI masih perlu mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) September 2026.

"Menurut saya, Bank Indonesia (BI) tidak perlu mengikuti kenaikan suku bunga The Fed. Sebab, BI sebelumnya sudah melakukan front loading atau kenaikan suku bunga lebih awal pada Mei-Juni. Saat itu, BI Rate telah naik sekitar 100 basis poin," ujar Juniman kepada Kontan, Kamis (17/9/2026).

Baca Juga: Brantas Abipraya Perkuat Likuiditas di Tengah Tekanan Bisnis Konstruksi

Seperti diketahui, The Fed menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 bps menjadi 4% dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC).
Juniman menilai, selama nilai tukar rupiah tidak melemah hingga menembus Rp18.000 per dolar AS dan inflasi tidak berada di atas 3,5%, BI seharusnya mempertahankan BI Rate di level 5,75%.

"Jadi, walaupun The Fed semalam menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, tidak ada alasan bagi BI untuk mengikuti langkah yang sama," ujarnya.

Menurut Juniman, keputusan BI ke depan akan tetap bergantung pada perkembangan indikator ekonomi domestik, terutama inflasi dan nilai tukar rupiah.

Apabila rupiah masih berada di bawah Rp18.000 per dolar AS dan inflasi tetap di bawah 3,5% hingga akhir tahun, ia menilai BI tidak perlu kembali menaikkan suku bunga.

Juniman juga menilai ekspektasi kenaikan Fed Fund Rate pada Desember 2026 belum tentu terealisasi. Dengan demikian, BI tidak perlu mengambil langkah antisipatif dengan menaikkan suku bunga hanya karena adanya potensi kenaikan suku bunga The Fed.

Konsekuensi Jika BI Rate Naik

Juniman mengatakan, kenaikan BI Rate berpotensi memberikan tekanan terhadap perekonomian domestik melalui sejumlah jalur.

Pertama, kenaikan suku bunga akan membuat cost of fund atau biaya dana semakin mahal. Kondisi tersebut pada akhirnya dapat menekan aktivitas ekonomi dan memperlambat pertumbuhan.

Kedua, kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan beban anggaran pemerintah. Sebab, kenaikan suku bunga dapat mendorong kenaikan yield Surat Berharga Negara (SBN). Ketika yield SBN meningkat, biaya penerbitan utang pemerintah juga berpotensi ikut naik.

"Kalau BI mengikuti kenaikan suku bunga The Fed, Bank of Japan, Bank of England, atau bank sentral lainnya, dampaknya adalah cost of fund atau biaya suku bunga akan semakin mahal. Pada akhirnya, kondisi ini dapat membuat perekonomian semakin melambat," jelas Juniman.

Baca Juga: Pemerintah Bakal Bentuk Badan Usaha Khusus Migas, Langsung di Bawah Presiden

Selain itu, kenaikan suku bunga juga dapat membuat kredit menjadi lebih mahal. Suku bunga pinjaman yang meningkat berpotensi menekan penyaluran kredit, yang kemudian dapat berdampak terhadap konsumsi dan investasi.

"Jadi, menurut saya, risiko kenaikan BI Rate lebih besar daripada manfaat yang diperoleh," kata Juniman.

Ia menambahkan, dalam dua atau tiga RDG terakhir, Gubernur BI telah menyampaikan bahwa kebijakan suku bunga antara lain diarahkan untuk menopang stabilitas nilai tukar.

Dengan demikian, apabila nilai tukar rupiah sudah stabil dan berada di bawah Rp18.000 per dolar AS, Juniman menilai kenaikan BI Rate tidak lagi menjadi langkah yang diperlukan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×