kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.768.000   18.000   0,65%
  • USD/IDR 17.723   -21,00   -0,12%
  • IDX 6.502   -24,02   -0,37%
  • KOMPAS100 848   -1,25   -0,15%
  • LQ45 642   -2,64   -0,41%
  • ISSI 228   -0,01   0,00%
  • IDX30 359   -1,39   -0,39%
  • IDXHIDIV20 437   -0,21   -0,05%
  • IDX80 97   -0,26   -0,27%
  • IDXV30 121   0,35   0,29%
  • IDXQ30 114   -0,45   -0,40%

Yield SRBI dan SBN Melandai, Asing Masih Masuk dan Rupiah Berpeluang Menguat


Selasa, 25 Agustus 2026 / 18:20 WIB
Yield SRBI dan SBN Melandai, Asing Masih Masuk dan Rupiah Berpeluang Menguat
ILUSTRASI. Arus modal asing (inflow) ke pasar keuangan Indonesia diproyeksi masih mengalir meski imbal hasil atau yield surat utang domestik mulai melandai (AFP/YASUYOSHI CHIBA)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Arus modal asing (inflow) ke pasar keuangan Indonesia diproyeksi masih mengalir meski imbal hasil atau yield surat utang domestik mulai melandai. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.

Dalam catatan Kontan, selama Juni 2026, investor asing tercatat membukukan inflow sebesar Rp 21,03 triliun ke Surat Berharga Negara (SBN) dan Rp 70,39 triliun ke Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, di pasar saham asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp 19,63 triliun.

Arus modal tersebut terjadi setelah Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate menjadi 5,75% pada Juni 2026. Kenaikan suku bunga tersebut turut mendorong kenaikan yield berbagai instrumen surat utang domestik sehingga menjadi lebih menarik bagi investor asing yang tengah mencari aset dengan imbal hasil tinggi di tengah kebijakan suku bunga global yang masih ketat.

Derasnya arus masuk modal asing ke instrumen berbasis rupiah tercermin dari peningkatan kepemilikan asing di SRBI. Kepemilikan asing pada instrumen tersebut meningkat dari Rp 114,05 triliun pada Desember 2025 menjadi Rp 293,16 triliun pada Juni 2026.

Dengan demikian, porsi kepemilikan asing di SRBI meningkat dari 16,15% menjadi 27,33% dari total outstanding yang mencapai Rp 1.072,62 triliun.

Baca Juga: Prabowo Kerahkan Kekuatan Besar, Karhutla Ditargetkan Tuntas 2 Pekan

Pada akhir Juni 2026, yield SRBI tenor enam bulan mencapai 7,36%, tenor sembilan bulan 7,54%, dan tenor satu tahun 7,70% per tahun. Sementara itu, yield SBN juga berada pada level yang relatif tinggi, dengan tenor satu tahun sekitar 6,94%, tenor dua tahun 6,95%, tenor lima tahun 7,02%, dan tenor 10 tahun sebesar 7,10%.

Namun, memasuki Agustus 2026, yield surat utang pemerintah mulai menunjukkan tren penurunan.

Pada perdagangan Jumat (21/8/2026), pasar Surat Utang Negara (SUN) melanjutkan penguatan seiring dengan pergerakan rupiah yang kembali stabil di kisaran Rp 17.695 per dolar AS.

Melansir data Bloomberg, yield SUN turun pada hampir seluruh tenor. Penurunan terdalam terjadi pada tenor dua tahun yang turun 12,8 basis poin (bps) menjadi 6,64%. Selanjutnya, yield tenor sembilan tahun turun 11,4 bps menjadi 7,08%.

Sementara itu, yield SBN tenor 10 tahun yang menjadi acuan pasar obligasi Indonesia kembali turun 5,7 bps menjadi 6,96%.

Penurunan yield juga terlihat pada lelang SRBI. Pada Agustus, yield pemenang lelang turun menjadi 7,06% untuk tenor enam bulan, 7,21% untuk tenor sembilan bulan, dan 7,37% untuk tenor 12 bulan.

Pejabat sementara Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan, penurunan yield SRBI tidak serta-merta membuat minat investor asing terhadap instrumen tersebut surut.

"Karena tentunya kita enggak ingin SRBI rate kita mengalami peningkatan. Sehingga, kalau kita lihat dalam dua minggu terakhir ini suku bunga SRBI atau yield SRBI terus mengalami penurunan, namun inflow tetap masuk," jelas Destry dalam RDG, Rabu (19/8/2026).

Rupiah Berpotensi Menguat

Chief Economist Citibank Indonesia Helmi Arman menilai kondisi global dan domestik saat ini relatif lebih kondusif dibandingkan kuartal sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi tekanan terhadap rupiah sekaligus membuka ruang bagi penurunan yield SRBI.

Baca Juga: Beban Bunga Utang Melonjak di 2027, Pemerintah Dinilai Lalai Efisiensi Anggaran

"Berbagai faktor global dan juga faktor-faktor domestik kelihatannya relatif lebih kondusif sekarang dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dan ini mendukung penurunan tekanan terhadap nilai tukar rupiah. Prediksi kami ini akan bisa diikuti oleh penurunan suku bunga SRBI di dalam negeri," ujar Helmi dalam konferensi pers Paparan Kinerja Citi Indonesia, Kamis (20/8/2026).

Menurut Helmi, salah satu faktor eksternal yang mendukung rupiah adalah tren harga minyak dunia yang mulai menurun dibandingkan kuartal II 2026.

Citi memperkirakan ketegangan di Timur Tengah akan terus mengalami deeskalasi. Jika arus perdagangan minyak melalui Selat Hormuz kembali sepenuhnya normal, pasokan minyak dunia berpotensi lebih besar dibandingkan permintaan.

Penurunan harga minyak tersebut juga berpotensi memberikan dampak positif terhadap neraca transaksi berjalan Indonesia.

Helmi memperkirakan defisit transaksi berjalan (CAD) Indonesia dapat mengecil pada semester II 2026, seiring dengan penurunan harga minyak dan melambatnya pertumbuhan ekonomi yang membatasi potensi lonjakan impor.

"Penurunan harga minyak kami perkirakan akan mengurangi defisit neraca transaksi berjalan Indonesia di kuartal III dibanding kuartal II," kata Helmi.

Ia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia pada semester II 2026 dapat kembali mengecil ke sekitar 1,5% dari produk domestik bruto (PDB), dibandingkan perkiraan defisit di atas 2% PDB pada kuartal II.

Selain harga minyak, faktor global lain yang dinilai mendukung rupiah adalah prospek penurunan yield US Treasury hingga akhir tahun.

Citi memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) tidak akan menaikkan suku bunga dan bahkan masih membuka peluang penurunan suku bunga sebelum akhir tahun. Perkiraan tersebut didukung oleh tren inflasi inti Amerika Serikat yang dinilai berpotensi menurun dari sekitar 2,5% menuju kisaran 2,2%-2,3%.

Ekspektasi penurunan suku bunga The Fed juga berpotensi menekan indeks dolar AS atau DXY. Citi memperkirakan dolar AS akan melemah terhadap euro maupun yuan China.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Asing Kembali Memburu SBN

Dari sisi domestik, Helmi melihat minat investor asing terhadap SBN Indonesia mulai meningkat pada kuartal III 2026 dibandingkan kuartal sebelumnya. Salah satu faktor pendukungnya adalah kondisi fiskal Indonesia yang dinilai lebih baik.

Defisit APBN 2026 diperkirakan tetap di bawah 3% PDB, seiring dengan penyesuaian dan penundaan sejumlah belanja serta akselerasi penerimaan pajak. Selain itu, rencana defisit APBN 2027 yang juga tetap di bawah 3% PDB dinilai mengurangi kekhawatiran investor obligasi terhadap potensi oversupply SBN di pasar domestik.

Baca Juga: Transfer ke Daerah 2027 Hanya Rp735 Triliun, KPPOD Soroti Tekanan Fiskal Daerah

"Menurunnya defisit transaksi berjalan serta kembalinya appetite investor asing terhadap pasar SBN Indonesia kami perkirakan membuat suku bunga SRBI ke depannya memiliki ruang untuk penurunan," ujar Helmi.

Helmi memperkirakan yield SRBI tenor 12 bulan masih dapat turun sekitar 25-75 basis poin (bps) hingga akhir 2026 dari level saat ini. Menurut dia, penurunan yield SRBI berpotensi terjadi lebih dahulu dibandingkan penurunan BI Rate. Hal ini karena kenaikan yield SRBI sejak awal tahun dinilai jauh lebih besar dibandingkan kenaikan BI Rate.

"Ketika suku bunga bergerak turun, yang akan turun terlebih dahulu itu adalah SRBI, bukan BI Rate," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, penurunan yield SRBI dan SBN tidak selalu berarti berkurangnya daya tarik aset Indonesia bagi investor asing. Sebaliknya, apabila penurunan yield terjadi bersamaan dengan membaiknya prospek rupiah, berkurangnya risiko eksternal, serta meningkatnya kepercayaan terhadap kondisi fiskal, arus modal asing masih berpeluang berlanjut.

Meski demikian, Helmi mengingatkan sejumlah risiko yang dapat mengubah proyeksi tersebut. Salah satunya adalah risiko inflasi akibat El Nino yang berpotensi lebih terasa menjelang akhir tahun maupun pada tahun berikutnya.

Risiko lainnya berasal dari potensi eskalasi kembali ketegangan di Timur Tengah yang dapat kembali mendorong harga minyak dunia dan memperbesar tekanan terhadap neraca transaksi berjalan serta rupiah.

Dengan demikian, arah yield SRBI dan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada kombinasi kondisi global, harga komoditas, kebijakan bank sentral utama dunia, serta fundamental domestik Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×