Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah mengandalkan lonjakan investasi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027.
Tahun depan, investasi ditargetkan mencapai Rp 2.900 triliun, dengan sekitar 40% atau Rp 1.160 triliun diharapkan berasal dari proyek hilirisasi.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, hilirisasi menjadi salah satu tumpuan utama investasi 2027. Fokusnya tidak lagi hanya pada mineral dan batubara, tetapi diperluas ke sektor berbasis sumber daya alam terbarukan seperti kehutanan, pertanian, perkebunan, serta kelautan dan perikanan.
"Tahun depan target investasinya sekitar Rp 2.900 triliun," kata Airlangga di Jakarta, Selasa (6/10/2026).
Baca Juga: Kejar Pertumbuhan 6%, Pemerintah Bidik Investasi Hilirisasi Rp 1.160 Triliun di 2027
Pemerintah telah menyiapkan peta jalan hilirisasi 28 komoditas di delapan sektor dengan kebutuhan investasi mencapai US$ 618 miliar hingga 2040.
Program tersebut ditargetkan mendorong ekspor hingga US$ 857 miliar sekaligus menciptakan sekitar tiga juta lapangan kerja.
Namun, pemerintah tidak ingin pertumbuhan investasi hanya bertumpu pada hilirisasi mineral.
Hilirisasi diarahkan menjadi bagian dari agenda industrialisasi yang lebih luas, termasuk dengan memperkuat industri otomotif, tekstil dan produk tekstil, FMCG, serta industri strategis lainnya.
Kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) ditargetkan meningkat hingga lebih dari 20%.
Baca Juga: Kemenkeu Bidik Dana Rp 15 Triliun dari Penawaran Sukuk Tabungan ST016
Dorongan investasi tersebut menjadi penting karena realisasi investasi hilirisasi pada semester I-2026 baru mencapai Rp 300,1 triliun, atau 29,7% dari total realisasi investasi yang mencapai Rp 1.010,6 triliun.
Secara tahunan, investasi hilirisasi tumbuh 6,9%. Sektor mineral masih menjadi penyumbang terbesar dengan Rp 206,5 triliun, diikuti perkebunan dan kehutanan Rp 54,4 triliun serta migas Rp 35,4 triliun.
Multiplier investasi
Besarnya investasi, namun, belum otomatis menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Lead Economist Bank Danamon Indonesia Irman Faiz menilai pemerintah harus memastikan investasi yang masuk memiliki dampak besar terhadap aktivitas ekonomi domestik.
"Yang menentukan dampaknya terhadap pertumbuhan bukan hanya besarnya nilai investasi, melainkan multiplier domestik dari investasi tersebut," ujar Faiz.
Menurut dia, untuk menopang pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027, pertumbuhan investasi perlu dipacu sekitar 7%-9%. Pemerintah juga perlu memastikan proyek yang telah diumumkan benar-benar masuk tahap konstruksi hingga produksi.
Kecepatan realisasi investasi akan sangat bergantung pada ketersediaan listrik dan energi, infrastruktur logistik, kepastian regulasi, perizinan, kawasan industri, hingga akses pasar ekspor.
Baca Juga: Tak Kejar Untung Cepat, Begini Strategi Investasi Bos Trisula Textile Ini
Selain mengejar nilai investasi, kualitas investasi juga menjadi kunci. Hilirisasi perlu diarahkan dari sekadar pengolahan bahan mentah menuju rantai nilai yang lebih panjang, dengan meningkatkan penggunaan input domestik, transfer teknologi dan ekspor produk bernilai tambah tinggi.
Diversifikasi ke agroindustri, perikanan, petrokimia hingga advanced manufacturing juga diperlukan agar investasi tidak terlalu terkonsentrasi pada sektor mineral yang cenderung padat modal.
Dengan demikian, target pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027 tidak cukup hanya mengandalkan besarnya modal yang masuk.
Pemerintah perlu memastikan investasi tersebut cepat terealisasi, memiliki efek berganda di dalam negeri, dan mampu meningkatkan produktivitas ekonomi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














