Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia pada Kuartal I-2026 diprediksi mengalami penurunan seiring tren melemahnya harga komoditas global dan berimbas pada komoditas unggulan Indonesia seperti Batubara dan minyak sawit (CPO)
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE), Yusuf Rendy Manilet menilai fase ini merupakan normalisasi setelah periode windfall profit dari sektor komoditas dalam dua hingga tiga tahun terakhir.
Menurut Yusuf, tren penurunan harga komoditas menjadi sinyal kuat bahwa postur penerimaan negara, khususnya PNBP dari sektor sumber daya alam (SDA), menghadapi tekanan. Jika dibandingkan awal 2026 dengan Januari 2025, realisasi PNBP berpotensi lebih rendah karena faktor harga yang menjadi determinan utama penerimaan.
Ia mencontohkan Harga Batubara Acuan (HBA) yang turun dari sekitar US$ 124 per ton pada Januari 2025 menjadi sekitar US$ 104 per ton pada Januari 2026. Dengan sistem royalti progresif, penurunan harga tersebut langsung menekan penerimaan negara secara signifikan.
Baca Juga: Tekanan Harga Batubara dan CPO Bayangi Penerimaan PNBP Sektor SDA
“Penerimaan negara (PNBP) turun lebih tajam karena struktur tarif progresif sebagaimana diatur pemerintah,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).
Tekanan juga terjadi pada komoditas crude palm oil (CPO). Harga referensi yang bergerak lebih rendah di kisaran US$ 915 per ton membuat basis penerimaan dari pungutan ekspor dan royalti ikut melemah. Kondisi ini tercermin dari realisasi awal Januari 2026 yang menunjukkan kontraksi sekitar 20% secara tahunan.
Yusuf memperkirakan Kuartal I-2026 akan menjadi fase koreksi nyata karena adanya tekanan dari sisi harga dan volume produksi. Dari sisi harga, penurunan batubara dari level US$ 120-an ke sekitar US$ 100 per ton membuat penerimaan turun lebih tajam.
Sementara dari sisi volume, terdapat indikasi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan mengarahkan produksi batubara ke level lebih moderat sekitar 600 juta ton, lebih rendah dibanding realisasi 2025 yang mendekati 800 juta ton. Strategi ini dilakukan untuk menjaga cadangan nasional.
Selain itu, faktor musiman seperti curah hujan tinggi di wilayah tambang utama di Kalimantan dan Sumatera juga berpotensi menekan produksi dan lifting pada awal tahun.
Untuk sepanjang 2026, Yusuf memperkirakan harga batubara cenderung stagnan hingga bearish di kisaran US$ 100– US$ 110 per ton. Hal ini dipengaruhi peningkatan produksi domestik di negara konsumen utama seperti China dan India yang berupaya mengurangi ketergantungan impor.
"Ini menekan permintaan global terhadap ekspor Indonesia," pungkas Yusuf.
Baca Juga: Purbaya Ultimatum Pengusaha CPO: Ikuti Aturan Atau Saya Hajar!
Sementara itu, harga CPO diproyeksikan relatif lebih stabil meskipun melandai ke kisaran US$ 850– US$ 900 per ton. Kebijakan mandatori biodiesel seperti B40 dan persiapan menuju B50 menjadi faktor penopang permintaan domestik, meski volume ekspor berpotensi stagnan.
"Namun, konsekuensinya adalah volume ekspor bisa stagnan atau bahkan menurun, sehingga meskipun harga relatif terjaga, kontribusi terhadap devisa dan penerimaan negara dari pungutan ekspor tetap berpotensi terbatas," kata Yusuf.
Di sisi lain, hasil jajak pendapat Reuters menunjukkan peningkatan pasokan dari negara produsen utama serta melemahnya permintaan biofuel menjadi faktor utama yang menekan harga komoditas global.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Purbaya, Yudhi Sadewa mengungkapkan kinerja PNBP Januari 2026 tercatat sebesar Rp 33,9 triliun atau turun 19,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Realisasi tersebut baru setara 7,4% dari target APBN 2026 sebesar Rp 459,2 triliun.
Purbaya juga menjelaskan salah satu faktor pelemahan tersebut antara lain disebabkan tidak berulangnya setoran dividen perbankan yang pada tahun sebelumnya mencapai sekitar Rp 10 triliun.
Baca Juga: Bea Cukai Gagalkan Ekspor 87 Kontainer Produk Turunan CPO, Begini Kronologinya!
Selanjutnya: Prabowo Teken Kesepakatan Tarif Trump Besok, Kamis (18/2), Ini Harapan Istana
Menarik Dibaca: Jumlah Orang Kaya Meningkat, Manulife Luncurkan Asuransi Warisan untuk Multigenerasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Excel for Business Reporting](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_28012616011400.jpg)