kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.878.000   -40.000   -1,37%
  • USD/IDR 16.901   42,00   0,25%
  • IDX 8.310   97,96   1,19%
  • KOMPAS100 1.169   11,37   0,98%
  • LQ45 839   8,86   1,07%
  • ISSI 297   2,12   0,72%
  • IDX30 438   6,14   1,42%
  • IDXHIDIV20 525   8,40   1,63%
  • IDX80 130   1,09   0,85%
  • IDXV30 143   1,04   0,73%
  • IDXQ30 141   2,01   1,45%

Tekanan Harga Batubara dan CPO Bayangi Penerimaan PNBP Sektor SDA


Rabu, 18 Februari 2026 / 19:26 WIB
Tekanan Harga Batubara dan CPO Bayangi Penerimaan PNBP Sektor SDA
ILUSTRASI. Target kenaikan PNBP minerba 2026 (ANTARA FOTO/M RISYAL HIDAYAT). Tekanan harga komoditas global, dinilai berpotensi memengaruhi kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan harga komoditas global, khususnya batubara dan minyak sawit alias crude palm oil (CPO), dinilai berpotensi memengaruhi kinerja Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Indonesia.

Meski demikian, prospek penerimaan dari kedua komoditas tersebut masih dinilai relatif terjaga.

Global Markets Economist Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menilai perkembangan PNBP saat ini sangat terkait dengan dinamika komoditas unggulan Indonesia, terutama kelapa sawit dan batubara.

Dari sisi kelapa sawit, ia menilai faktor gangguan iklim menjadi tantangan utama yang berpotensi memengaruhi produksi.

Menurutnya, frekuensi gangguan iklim yang meningkat dapat menghambat perkembangan produksi CPO domestik.

Baca Juga: Normalisasi Pasar Dinilai Jadi Faktor Penekan Harga Batubara Sepanjang 2025

“Kondisi terkait gangguan iklim frekuensinya cukup tinggi dan ini kelihatannya cukup mengganggu perkembangan produksi CPO kita,” jelasnya kepada Kontan, Rabu (18/2/2026).

Situasi tersebut juga berpotensi memengaruhi suplai CPO domestik maupun global, mengingat Indonesia merupakan eksportir kelapa sawit terbesar di dunia. Meski demikian, dari sisi harga, CPO dinilai masih berada pada level yang relatif kuat.

“Kalau saya lihat dari sisi kelapa sawit, perkembangan harganya kelihatannya masih bergerak di atas level RM 3.760 per ton,” katanya.

Selain itu, penguatan dolar AS terhadap rupiah juga menjadi faktor penopang penerimaan dari sektor ini.

Dengan kurs dolar yang lebih kuat, pendapatan dari ekspor kelapa sawit maupun kontribusi terhadap PNBP secara keseluruhan dinilai masih berada di jalur yang sesuai dengan target pemerintah.

Adapun pada komoditas batu bara, Myrdal mengakui harga global memang mengalami penurunan. Namun, ia menilai posisi batu bara Indonesia masih kompetitif jika dikonversi ke rupiah.

Baca Juga: PNBP Sektor ESDM per November Capai Rp 210,90 Triliun, Setara 82,87% dari Target 2025

“Walaupun harganya secara global turun, tapi pada saat dikonversi ke rupiah posisinya masih sangat kompetitif. Apalagi biaya produksi batu bara di Indonesia relatif rendah,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemerintah juga berencana memangkas target produksi batu bara sebagai strategi menjaga daya saing harga di pasar internasional. Langkah ini dinilai dapat membantu menjaga stabilitas pasar sekaligus mendukung keberlanjutan sektor.

Myrdal menilai dampak negatif terhadap PNBP kemungkinan tidak terlalu besar. Selain itu, pemerintah juga tengah menyiapkan program hilirisasi batu bara melalui pengembangan dimethyl ether (DME), yang berpotensi memberikan nilai tambah bagi sektor tersebut.

“Untuk pengaruh negatif ke PNBP saya rasa tidak terlalu besar. Apalagi ada rencana hilirisasi batu bara dalam bentuk dimethyl ether yang bisa memberikan dampak positif,” jelasnya.

Dari sisi prospek ekspor, kedua komoditas tersebut diperkirakan masih memiliki potensi pertumbuhan, meski dalam kisaran satu digit. Namun, risiko tetap ada jika pemerintah memutuskan untuk memangkas produksi batu bara secara signifikan.

Baca Juga: Harga Batubara Belum Akan Kemana-mana, Investor Disarankan Selektif Pilih Saham

“Kecuali memang ada kebijakan pemerintah untuk memangkas produksi batu bara, itu pasti akan mempengaruhi perkembangan ekspor. Tapi kalau untuk kelapa sawit seharusnya tidak,” pungkasnya.

Selanjutnya: Ini Kata Asippindo Soal BOPO Industri Penjaminan Naik Jadi 67,73% per Akhir 2025

Menarik Dibaca: Jadwal Imsakiyah Kota Batu Ramadan 2026 Lengkap

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Intensive Sales Coaching: Lead Better, Sell More! [Intensive Workshop] Excel for Business Reporting

[X]
×