kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45825,80   0,58   0.07%
  • EMAS1.028.000 0,19%
  • RD.SAHAM 0.38%
  • RD.CAMPURAN 0.16%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.09%

The EIU: Pertempuran RI lawan corona baru dimulai, Ramadhan tantangan, butuh putusan


Sabtu, 21 Maret 2020 / 00:28 WIB
The EIU: Pertempuran RI lawan corona baru dimulai, Ramadhan tantangan, butuh putusan
ILUSTRASI. A girl wearing a protective face mask and synthetic gloves sits on luggages as she queues for temperature checking amid the spread of coronavirus disease (COVID-19) at Halim Perdanakusuma airport in Jakarta, Indonesia, March 20, 2020. REUTERS/Willy Kurnia

Reporter: Titis Nurdiana | Editor: Titis Nurdiana

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Pandemi virus corona  terus menjalar, termasuk di Indonesia. Ini nampak dari kenaikan jumlah warga kita yang positif terjangkit corona.

Dari situs resmi pemerintah, sampai Jumat (20/3) total kasus corona di Indonesia kini sudah mencapai 369 orang, dengan perincian:  sembuh dari corona 17 orang  dan meninggal sebanyak 32 orang. Sangat mungkin jumlah ini bertambah, mengingat tes cepat atau rapid test baru dilakukan pada Jumat malam (20/3).

Hitungan matematika pemerintah, dalam jumpa pers kata juru bicara pemerintah atas penanganan corona Achmad Yurianto, populasi orang Indonesia yang terpapar corona bisa sampai 600.000 sampai 700.000 orang.

Tantangan penanganan penyebaran virus corona Indonesia bakal semakin besar. The Economist Intelligence Unit (The EIU) menginggatkan, tak lama lagi Pemerintahan Presiden Joko Widodo akan menghadapi tantangan besar dengan datangnya bulan Ramadhan dan liburan Idul Fitri.

Mulai 23 April sampai sebulan penuh,  penduduk Indonesia yang mayoritas beragama Islam akan menjalani ibadah puasa. Ini akan berlanjut libur panjang menyambut Lebaran kurang lebih 10 hari. Lebaran diprediksi akan jatuh pada 24 Mei. Proyeksi The EIU, mudik akan terjadi 22 Mei 2020.

Saat itu, kata The EIU, lebih dari 30 juta orang  akan bepergian dari kota ke kota asal dan desa di 34 provinsi untuk liburan, menggunakan semua moda transportasi. Istirahat di tempat peristirahatan jalan tol, jalan tol, stasiun bus, dan area keberangkatan bandara akan sangat padat dengan orang-orang.

“Kondisi  ini akan membuat otang berdekatan satu sama lain. Risiko remisi virus  corona ke daerah terpencil hanya dalam satu akhir pekan akan besar dalam sepekan,” tulis The EIU dalam risetnya berjudul: Indonesia’s battle with the coronavirus begins, yang rilis 19 Maret 2020.

Kondisi ini juga akan dipacu dengan budaya berkunjung saat Lebaran bagi orang muda ke orang tua. Kondisi ini bisa menambah penyebaran virus corona.

Menurut The EUI, dengan pandemi corona yang berkembang pesat serta tidak ada keputusan lockdown, penyebaran virus corona ini bisa sampai ke pelosok daerah.  “Saat kasus meningkat pesat dan terkonfirmasi, kami percaya pemerintah akan dipaksa untuk membatasi perjalanan selama Idul Fitri,” tulis The Economist. 

Jika ini terjadi, The EIU mengingatkan, kehadiran militer dan polisi yang jumlahnya sangat banyak akan sangat dibutuhkan diperlukan untuk menjaga ketertiban.

Sampai saat ini, Presiden Jokowi belum memiliki rencana untuk lockdown atau membatasi akses keluar-masuk di wilayah tertentu demi mencegah penyebaran virus corona.

 Namun, jika jumlah pasien yang positif wabah coronoa itu bertambah signifikan, tulis The EUI, pemerintah akan dipaksa untuk membatasi perjalanan selama Lebaran tahun ini.

Selain itu, The Economist juga mengingatkan bahwa pemerintah Indonesia juga harus melakukan pendekatan ke  organisasi-organisasi Islam, Ulama karena ada budaya sholat tarawih dan doa di masjid selama Ramadhan. Jika tidak, ini akan mempengaruhi penyebaran virus corona.

Menurut The EIU, Indonesia baru masuk fase awal pertempuran melawan virus corona. Lembaga riset internasional itu melihat ekonomi Indonesia akan masuk fase  sangat sakit.

Selain itu, rumah sakit dan tenaga medis  hanya mampu mengurus pasien yang sangat terbatas. Belum lagi laboratorium sangat terbatas.   "Kemungkinan kerusuhan sosial terjadi. Sangat penting pemerintah melakukan lockdown atau jumlah nyawa yang hilang semakin banyak," tulis The EIU.

The EIU  juga menilai paket kebijakan demi menjaga ekonomi dari serangan virus corona yakni kebijakan fiskal jilid pertama pada Februari 2020 dan dilanjutkan paket kedua bulan ini tak efektif alias melenceng dari tujuan, Baru saat ini pemerintah sedang mempersiapkan paket kebijakan fiskal ketiga untuk kesehatan..

Masalah semakin menumpuk karena Presiden Jokowi menolak untuk melakukan pembatasan lantaran keputusan tersebut sangat sulit dengan banyak pertimbangan.  Hanya pertemuan di ruang pubik yang diberlakukan di negara lainnya terbukti bisa meminimalisir penularan virus corona. Sebagai gantinya, Presiden hanya mengimbau warga untuk bekerja dari rumah (work from home) dan warga membatasi perjalanan yang tak terlalu penting.

“Sangat penting bahwa pemerintah membuat keputusan penguncian dengan kejelasan, ketepatan dan kepekaan, atau jumlah nyawa yang lebih besar akan hilang,” tulis The EIU dalam penutupan riset itu.


 

DONASI, Dapat Voucer Gratis!
Dukungan Anda akan menambah semangat kami untuk menyajikan artikel-artikel yang berkualitas dan bermanfaat.

Sebagai ungkapan terimakasih atas perhatian Anda, tersedia voucer gratis senilai donasi yang bisa digunakan berbelanja di KONTAN Store.


TERBARU

[X]
×