kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.632.000   22.000   0,84%
  • USD/IDR 17.880   0,00   0,00%
  • IDX 6.340   108,24   1,74%
  • KOMPAS100 839   16,49   2,00%
  • LQ45 637   8,89   1,42%
  • ISSI 218   3,63   1,69%
  • IDX30 358   3,90   1,10%
  • IDXHIDIV20 444   3,51   0,80%
  • IDX80 96   1,59   1,69%
  • IDXV30 119   0,82   0,69%
  • IDXQ30 115   1,03   0,91%

Terus dikembangkan, vaksin Covid-19 buatan lokal diharapkan meluncur Maret 2021


Senin, 25 Mei 2020 / 16:46 WIB
ILUSTRASI. Pada Maret tahun 2021 mendatang, vaksin untuk virus corona (Covid-19) yang diproduksi Indonesia diharapkan sudah bisa meluncur.


Reporter: Ratih Waseso | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pada Maret tahun 2021 mendatang, vaksin untuk virus corona (Covid-19) yang diproduksi oleh Indonesia sendiri diharapkan sudah dapat diluncurkan.

Staf Khusus Menteri Riset dan Teknologi dan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Ristek/BRIN) Ekoputro Adijayanto menerangkan, saat ini Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman tengah melakukan pengumpulan hasil Whole Genome Sequence (WGS), yang nantinya untuk melakukan pengujian terlebih dahulu ke sekuens sebagai pengujian dasar terhadap vaksin tersebut.

Menurut Eko, di Indonesia, LBM Eijkman sudah menemukan ada 7 WGS dan 2 WGS yang ditemukan oleh peneliti di Universitas Airlangga. Ketujuh WGS tersebut kemudian dikirim ke Global Initiative on Sharing ALL Influenza Data (GISAID).

Baca Juga: UPDATE Corona Indonesia, Senin (25/5): 22.750 kasus, 5.642 sembuh, 1.391 meninggal

GISAID merupakan inisiatif kerjasama antara pemerintah Jerman dengan organisasi nirlaba yang bertujuan menyediakan akses terhadap berbagai informasi genetik virus-virus yang menyebabkan epidemi seperti flu.

"Ini sudah dikirim ke satu lembaga GISAID yang isinya semua jenis virus influenza. Harus diregister ke situ biar semua bisa saling tukar menukar pikiran, kerja sama buat menemukan jenis virusnya. Jadi kita selain menemukan jenis virusnya juga harus didaftarkan di GISAID. Kita tidak mungkin kerja sendirian, harus senantiasa tukar pikiran dalam lembaga sejenis di GISAID," jelas Eko saat dihubungi Kontan.co.id pada Senin (25/5).

Tak menutup kemungkinan juga masih akan ditemuan WGS baru di Indonesia. Saat ini, WGS atau genom yang ada di Indonesia berbeda dengan tiga genom virus corona saat awal muncul. Eko menekankan pentingnya menemukan formula yang memang sesuai dengan genom atau jenis virus korona yang ada di Indonesia.

"Itu genom kita lihat lagi, makin banyak makin baik kita temukan. Di dunia sudah ratusan dari tiga tadi urutan. Virus itukan unik, masih terus cari. Rapid test, PCR, ventilator, vaksin, dan lainnya kita kembangkan sesuai virus yang juga berkembang di Indonesia," imbuh Eko.

Waktu 12 bulan dinilai menjadi rentang yang cepat dalam penemuan vaksin suatu virus sendiri. Dengan kolaborasi dan kerjasama antar lembaga dibawah konsorsium Covid-19 yang dikoordinator Kementerian Riset dan Teknologi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) diharapkan vaksin akan segera diproduksi sendiri.

"Kita mengalokasilan di Kememristek penelitian sekitar Rp 38 miliar, itu buat semua inovasi tangani Covid-19 seperti alat kesehatan, vaksin, obat imunitas, PCR, reagen dan lainnya. Reagen sendiri ada sekitar Rp 11,79 miliar. Reagen itukan buat PCR agar efektif dimana kan sekarang masih impor nah kita sedang usaha buat reagen. Reagen dan vaksin cukup besar, tapi alokasi buat vaksin saya kurang bisa tahu detil angkanya," terangnya.

Baca Juga: IHSG masih akan dibayangi aksi jual selama pandemi corona belum mereda




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×