kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.580.000   -17.000   -0,65%
  • USD/IDR 18.024   26,00   0,14%
  • IDX 6.135   -12,86   -0,21%
  • KOMPAS100 796   -2,07   -0,26%
  • LQ45 612   -0,21   -0,03%
  • ISSI 212   0,27   0,13%
  • IDX30 339   -0,01   0,00%
  • IDXHIDIV20 429   1,69   0,40%
  • IDX80 91   -0,24   -0,27%
  • IDXV30 116   0,09   0,08%
  • IDXQ30 110   0,44   0,40%

Pemerintah Siapkan Rp 17 Triliun untuk Bangun Ekosistem Peternakan, Rampung 2027


Selasa, 29 September 2026 / 10:47 WIB
Pemerintah Siapkan Rp 17 Triliun untuk Bangun Ekosistem Peternakan, Rampung 2027
ILUSTRASI. Pemerintah siapkan anggaran Rp 17 triliun untuk membangun ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir di 5 kawasan (ANTARA FOTO/Andry Denisah)


Reporter: Lailatul Anisah | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah menyiapkan anggaran sekitar Rp 17 triliun untuk membangun ekosistem peternakan terintegrasi dari hulu hingga hilir. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan, lima kawasan peternakan tahap awal ditargetkan rampung pada 2027.

Lima kawasan tersebut berada di Lampung, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Gorontalo. Untuk pembangunan lima kawasan tersebut, pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp 2,2 triliun.

“Anggarannya sudah turun, beliau (Presiden) sudah tanda tangan Rp 2,2 triliun untuk lima. Total anggaran yang dipersiapkan pemerintah sekitar Rp 17 triliun, tetapi bukan di sini saja,” ujar Amran dalam keterangan resminya, Senin (28/9/2026).

Baca Juga: Pemerintah Godok Aturan Rumah Recycle, Diupayakan Jalan Tahun Ini

Amran mengatakan, pembangunan lima kawasan tersebut terus dipercepat dan ditargetkan selesai tahun depan. Pemerintah juga telah menyelesaikan sisi administrasi dan anggaran sehingga pembangunan dapat segera dikebut.

“Lima pabrik pakan, DOC dan seterusnya itu selesai tahun depan. Insyaallah lima ini diresmikan tahun depan,” katanya.

Ekosistem peternakan tersebut akan mencakup sejumlah fasilitas, mulai dari pabrik pakan, pembibitan atau day old chick (DOC), budidaya ayam, produksi telur, hingga pengembangan sapi perah dan susu.

Menurut Amran, pembangunan secara terintegrasi diperlukan untuk memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan efisiensi produksi peternakan. Pemerintah juga menargetkan kebutuhan ayam, telur dan susu untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) dapat dipenuhi dari penguatan produksi dalam negeri.

“Dari hulu ke hilir ini holistik. Ada MBG menjadi off-taker ayam, telur, susu. Kemudian di sini produksi telur, ayam, susu,” jelasnya.

Salah satu komponen penting dalam ekosistem tersebut adalah penguatan industri pakan. Pemerintah akan mendorong pemenuhan bahan baku pakan, terutama jagung, dari sentra produksi di sekitar kawasan peternakan.

Amran mencontohkan, pengembangan kawasan di Bone, Sulawesi Selatan. Kebutuhan jagung untuk pakan dapat dipasok dari Bone, Soppeng dan wilayah sekitar sehingga rantai distribusi menjadi lebih pendek.

Baca Juga: Penjualan SBN Ritel 2026 Tembus Rp 124 Triliun, Milenial Jadi Tulang Punggung

“Jadi dari hulu ke hilir ini holistik. Itu murah. Daripada jagung ini dikirim ke Surabaya, dikirim ke Jakarta, setelah jadi pakan dikembalikan,” ujarnya.

Selain pabrik pakan, pemerintah akan membangun fasilitas DOC agar kebutuhan bibit ayam dapat dipenuhi lebih dekat dengan sentra produksi.

“Pabrik pakan juga akan dibangun lengkap DOC-nya, anak ayam. Tidak perlu lagi mengambil ke mana-mana. Ambil dari sini. Lengkap,” kata Amran.

Sementara itu, pengembangan sapi perah dan produksi susu menjadi bagian lain dari ekosistem peternakan yang dibangun pemerintah. Amran mengatakan, peningkatan produksi susu diperlukan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan pangan bergizi masyarakat.

Di Sulawesi Selatan, salah satu kawasan pengembangan peternakan berada di Bone dengan luas sekitar 150 hektare. Kawasan tersebut diharapkan dapat memperkuat rantai pasok peternakan sekaligus membuka aktivitas ekonomi dan lapangan kerja di wilayah sekitar.

Baca Juga: Kasus Influenza Naik, Menkes Minta Masyarakat Tak Asal Konsumsi Oseltamivir

“Lokal lah. Kalau mau kerja di sini, itu kan lapangan kerja,” ujar Amran.

Pemerintah berharap pembangunan ekosistem peternakan tersebut tidak hanya meningkatkan produksi ayam, telur dan susu, tetapi juga memperkuat pasar bahan baku, industri pakan dan pembibitan, serta distribusi produk peternakan di dalam negeri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×