Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli
Selain intervensi di pasar valas, BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi, mulai dari smart intervention, operasi moneter, hingga peningkatan daya tarik aset rupiah melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pengelolaan suku bunga.
Di sisi lain, BI mendorong pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS melalui penguatan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT).
Sepanjang Januari–Desember 2025, volume transaksi LCT melonjak signifikan menjadi US$ 25,66 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan 2024.
Baca Juga: Peringatan! Rupiah Terancam Sentuh Rp 17.100 di Pekan Ini, Cek Penyebabnya
“Penggunaan mata uang selain dolar menjadi bagian dari strategi kami untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS,” ujar Destry.
BI juga memperluas pengembangan pasar non-dolar, termasuk membuka dan mengaktifkan perdagangan rupiah–yen Jepang serta rupiah–renminbi (RMB) Tiongkok. Langkah ini ditujukan untuk memotong praktik transaksi berlapis yang selama ini masih menggunakan dolar sebagai perantara.
“Ke depan, kami dorong agar kebutuhan CNY bisa langsung melalui pasar rupiah–CNY,” pungkas Destry.
Dengan kombinasi intervensi agresif, cadangan devisa yang kuat, serta penguatan pasar keuangan domestik, BI meyakini stabilitas rupiah dapat terjaga dan tekanan nilai tukar perlahan mereda.
Selanjutnya: Sinopsis The Crown, Serial Netflix Tentang Keluarga Kerajaan Inggris
Menarik Dibaca: Biji Nangka Rebus: 4 Manfaat Tak Terduga untuk Kesehatan Optimal
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













