kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.772.000   35.000   1,28%
  • USD/IDR 16.957   -16,00   -0,09%
  • IDX 9.010   -124,37   -1,36%
  • KOMPAS100 1.238   -17,33   -1,38%
  • LQ45 871   -12,96   -1,47%
  • ISSI 330   -4,30   -1,29%
  • IDX30 446   -8,42   -1,86%
  • IDXHIDIV20 522   -16,69   -3,10%
  • IDX80 137   -2,04   -1,46%
  • IDXV30 144   -4,36   -2,93%
  • IDXQ30 142   -3,40   -2,34%

Tekanan Global Dorong Rupiah Melemah, BI Tegaskan Siap Bertindak Agresif


Rabu, 21 Januari 2026 / 17:13 WIB
Diperbarui Rabu, 21 Januari 2026 / 18:00 WIB
Tekanan Global Dorong Rupiah Melemah, BI Tegaskan Siap Bertindak Agresif
ILUSTRASI. Logo BI (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). Rupiah capai rekor terendah Rp16.967 per dolar AS. BI pastikan intervensi besar-besaran dengan cadangan devisa kuat. Ketahui langkah taktis BI.


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global dan domestik yang kian kuat pada awal 2026. 

Gubernur BI Perry Warjiyo memastikan bank sentral tidak akan ragu melakukan intervensi besar-besaran, termasuk mengoptimalkan penggunaan cadangan devisa yang saat ini berada di level kuat.

“BI tidak segan-segan melakukan intervensi dalam jumlah besar, baik melalui intervensi non-deliverable forward di pasar luar negeri maupun di dalam negeri, termasuk di pasar spot dan DNDF,” kata Perry dalam konferensi pers, Rabu (21/1/2026).

Baca Juga: Rupiah Melemah, Ekonom Prediksi BI Pertahankan Suku Bunga Acuan pada RDG Januari 2026

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pelemahan rupiah yang menembus level terendah sepanjang sejarah. 

Berdasarkan data pasar spot, pada perdagangan Rabu (21/1/2026) hingga tengah hari, rupiah berada di posisi Rp 16.967 per dolar AS, melemah 0,07% dibandingkan penutupan sebelumnya.

Perry menjelaskan, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi eksternal, meningkatnya ketidakpastian geopolitik, kebijakan tarif Amerika Serikat, serta tingginya imbal hasil US Treasury mendorong penguatan dolar AS dan memicu aliran modal keluar dari negara berkembang.

“Terjadi pergeseran aliran modal dari emerging market ke negara maju, termasuk Amerika Serikat,” ujarnya.

Sepanjang awal 2026 hingga 19 Januari, tercatat arus modal keluar bersih mencapai US$ 1,6 miliar. 

Baca Juga: Rupiah Nyaris Rp 17.000, Menkeu Purbaya: Dampak ke Ekonomi Masih Minim

Sementara dari dalam negeri, tekanan rupiah juga dipengaruhi tingginya kebutuhan valas sejumlah korporasi besar seperti Pertamina, PLN, dan Danantara, serta persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan proses pencalonan Deputi Gubernur BI.

Namun Perry menegaskan, proses pencalonan pejabat BI berjalan sesuai undang-undang dan tidak mengganggu independensi maupun profesionalisme bank sentral. 

“Tata kelola Bank Indonesia tetap kuat,” tegasnya.

Meski berada di bawah tekanan, BI menilai fundamental ekonomi Indonesia masih solid. Hal ini tercermin dari inflasi yang rendah, imbal hasil aset rupiah yang tetap menarik, serta prospek ekonomi yang membaik. 

Dengan dukungan tersebut, BI optimistis rupiah dapat kembali stabil dan menguat.

Keyakinan tersebut diperkuat oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai US$ 156 miliar. “Cadangan devisa kami kumpulkan pada saat masuk dan kami gunakan. Tidak segan-segan kami gunakan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah,” kata Perry.

Baca Juga: Rupiah Tertekan Jelang RDG BI, Pasar Cemas Arah Kebijakan dan Risiko Fiskal

Senada, Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menilai pelemahan rupiah bukan fenomena yang dialami Indonesia semata. Sejumlah negara berkembang lain juga mengalami tekanan serupa, meski pelemahan rupiah belakangan terlihat lebih dalam.

“Indonesia tidak sendiri. Negara-negara peer group kita juga mengalami pelemahan,” ujarnya.

Menurut Destry, kondisi tersebut banyak dipengaruhi faktor persepsi pasar. Karena itu, BI terus berupaya memperbaiki persepsi dengan menunjukkan bahwa kondisi fundamental Indonesia masih relatif aman.

Selain intervensi di pasar valas, BI juga mengoptimalkan berbagai instrumen stabilisasi, mulai dari smart intervention, operasi moneter, hingga peningkatan daya tarik aset rupiah melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pengelolaan suku bunga.

Di sisi lain, BI mendorong pengurangan ketergantungan terhadap dolar AS melalui penguatan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT). 

Sepanjang Januari–Desember 2025, volume transaksi LCT melonjak signifikan menjadi US$ 25,66 miliar, hampir dua kali lipat dibandingkan 2024.

Baca Juga: Peringatan! Rupiah Terancam Sentuh Rp 17.100 di Pekan Ini, Cek Penyebabnya

“Penggunaan mata uang selain dolar menjadi bagian dari strategi kami untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS,” ujar Destry.

BI juga memperluas pengembangan pasar non-dolar, termasuk membuka dan mengaktifkan perdagangan rupiah–yen Jepang serta rupiah–renminbi (RMB) Tiongkok. Langkah ini ditujukan untuk memotong praktik transaksi berlapis yang selama ini masih menggunakan dolar sebagai perantara.

“Ke depan, kami dorong agar kebutuhan CNY bisa langsung melalui pasar rupiah–CNY,” pungkas Destry.

Dengan kombinasi intervensi agresif, cadangan devisa yang kuat, serta penguatan pasar keuangan domestik, BI meyakini stabilitas rupiah dapat terjaga dan tekanan nilai tukar perlahan mereda.

Selanjutnya: Sinopsis The Crown, Serial Netflix Tentang Keluarga Kerajaan Inggris

Menarik Dibaca: Biji Nangka Rebus: 4 Manfaat Tak Terduga untuk Kesehatan Optimal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU
Kontan Academy
SPT Tahunan PPh Coretax: Mitigasi, Tips dan Kertas Kerja Investing From Zero

[X]
×