Reporter: Prayogi Ikhrawinata | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga cabai rawit merah masih menembus Rp 100.000 per kilogram (kg) di sejumlah pasar pada akhir Oktober 2026.
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Eliza Mardian juga mengakui kenaikan kenaikan harga cabai tidak sekedar dipengaruhi gangguan produksi akibat cuaca, tetapi juga persoalan distribusi dan mahalnya biaya logistik.
Meski rata-rata nasional harga cabai rawit merah turun 0,62% menjadi Rp 92.111 per kg pada pekan ketiga Oktober 2026, harga di sejumlah daerah masih tinggi.
Baca Juga: Harga Cabai Tembus Rp 100.000 per Kg, Bapanas Genjot Distribusi Antar Daerah
Eliza mengatakan, kemarau yang diperparah fenomena El Niño mampu menekan produksi hortikultura. Di sisi lain, konsentrasi produksi di Pulau Jawa dan infrastruktur transportasi antarpulau yang belum efisien menghambat distribusi ke daerah yang kekurangan pasokan.
“Sebetulnya ini karena faktor kombinasi, kemarau ditambah El Niño kuat, diperparah dengan faktor struktural yang sudah akut,” ujar Eliza kepada Kontan, Senin (26/10/2026).
Menurut Eliza, karakteristik cabai yang mudah rusak membuat biaya dan risiko pengiriman meningkat, terutama untuk distribusi antarpulau. Permintaan cabai rawit juga relatif sulit turun ketika harga naik karena telah menjadi bagian dari kebiasaan konsumsi masyarakat.
“Cabai mudah rusak, sehingga biaya dan risiko kirim ke pulau jauh langsung berpengaruh pada harga eceran. Permintaan cabai rawit ini inelastis, jadi berapa pun harganya tetap akan dibeli karena sudah menjadi bagian dari budaya kuliner,” ungkapnya.
Selain faktor produksi dan logistik, panjangnya rantai pasok serta ketimpangan informasi antara petani, pedagang, dan konsumen turut memperlebar disparitas harga. Menurut Eliza, surplus produksi secara nasional tidak otomatis menjamin pasokan stabil dan harga terjangkau di seluruh wilayah.
Baca Juga: Usai Pangkas Gas ke Singapura, Bahlil Berburu Pasokan Impor BBM ke India dan China
Eliza menilai, pemerintah perlu memperkuat distribusi cabai dari daerah surplus ke wilayah yang kekurangan pasokan, memberikan dukungan biaya pengiriman untuk komoditas yang mudah rusak, serta memperbaiki pengelolaan air di sentra produksi guna menekan gejolak harga.
“Volume intervensi harus sebanding dengan defisit lokal. Harga acuan akan efektif jika pasokan dari daerah lain mengalir dan ongkos kirim tidak menghabiskan selisih harga acuan,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














