Reporter: Hervin Jumar | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pangan Nasional (Bapanas) memastikan ketahanan pangan nasional tetap terjaga di tengah ancaman fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung hingga awal 2027.
Pemerintah mengandalkan Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) beras yang kini mencapai 5,25 juta ton sebagai bantalan untuk menjaga pasokan sekaligus menstabilkan harga pangan selama musim kemarau yang diprediksi lebih panjang.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang disusun Bapanas, ketersediaan pangan nasional hingga akhir tahun masih berada dalam kondisi yang aman.
"Terkait dengan kondisi stok, artinya secara prinsip bahwa berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan yang disusun Bapanas, bahwa semua stok pangan kita relatif aman," kata Ketut dalam keterangan resmi, Rabu (29/7/2026).
Baca Juga: BGN Prioritaskan Operasional Dapur MBG di Daerah dengan Angka Stunting Tinggi
Menurut Ketut, ketersediaan berbagai komoditas pangan strategis diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga akhir 2026. Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai, daging sapi, daging ayam ras, telur ayam ras, hingga gula konsumsi.
Data Bapanas menunjukkan stok CPP beras per 28 Juli 2026 mencapai 5,25 juta ton. Jumlah ini melonjak 245,4% dibandingkan posisi awal September 2023 yang sebesar 1,52 juta ton, menjelang puncak El Nino pada periode tersebut.
Selain beras, pemerintah juga memiliki cadangan pangan lain yang dinilai cukup untuk mengantisipasi potensi gangguan pasokan. Stok CPP jagung tercatat sebanyak 166.000 ton, sementara stok daging ayam ras mencapai 38 ton atau meningkat 138,4% dibandingkan sebelum El Nino 2023. Adapun cadangan gula konsumsi mencapai 2.000 ton dan minyak goreng sekitar 1.000 kiloliter.
Ketut menilai penguatan cadangan pangan tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga apabila dampak El Nino mulai dirasakan dalam beberapa bulan mendatang.
Baca Juga: Kinerja Fiskal Semester II Diramal Tertekan, Subsidi dan Penerimaan Pajak Jadi Risiko
Meski demikian, Bapanas tetap meminta Perum Bulog mempercepat distribusi beras melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM) dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah ini dinilai penting untuk meredam kenaikan harga beras yang mulai terjadi di sejumlah daerah.
"Beras memang stabil. Pasokan bagus tapi memang ada beberapa yang agak naik sedikit. Kami sepakat dengan Bapak Dirut Bulog. Pertama, GPM mohon digencarkan. Kedua, mohon juga digencarkan SPHP beras medium di pasar-pasar, terutama karena beberapa pasar kami lihat masih berbatas," ujar Ketut.
Sementara itu, Kepala Bapanas yang juga menjabat sebagai Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipasi jauh sebelum musim kemarau tiba. Pengalaman menghadapi El Nino pada 2023 menjadi acuan dalam memperkuat stok pangan nasional tahun ini.
"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita tahun 2023, alhamdulillah kita lolos. Kalau bulan Agustus sampai September memang musim kering. Insya Allah pangan kita aman, terutama beras," kata Amran.
Baca Juga: Insentif Pajak PFII, Dinilai Tak Sejalan dengan Pajak Minimum Global
Di sisi lain, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau 2026 akan berlangsung lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal. Fenomena El Nino bahkan diproyeksikan bertahan hingga awal 2027 dengan peluang mencapai kategori sangat kuat sebesar 75%.
BMKG juga memproyeksikan puncak musim kemarau terjadi pada Juli hingga September 2026. Kondisi paling luas diperkirakan berlangsung pada Agustus, mencakup 369 Zona Musim atau sekitar 48,84% wilayah daratan Indonesia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














