Reporter: Siti Masitoh | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, pertumbuhan ekonomi atau Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal II 2026 mencapai 5,29% year on year (yoy).
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M. Edy Mahmud membeberkan, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama laju pertumbuhan ekonomi pada periode tersebut. konsumsi rumah tangga tumbuh 5,06% yoy, meski lebih rendah dari kuartal I 2026 yang mencapai 5,52% yoy, dan juga lebih rendah dari kuartal II 2025 yang mencapai 5,23% yoy.
“Kontribusi menurut pengeluaran ke pertumbuhan ekonomi paling tinggi adalah konsumsi rumah tangga, dengan kontribusi 53,52%,” tutur Edy dalam konferensi pers, Rabu (5/8/2026).
Baca Juga: BPS Catat 430.000 Penduduk Keluar dari Kemiskinan per Maret, Angka Kemiskinan Menurun
Meski masih menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi, konsumsi masyarakat belum mampu melaju lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Adapun konsumsi rumah tangga tumbuh didorong kelompok restoran dan hotel yang mencapai 6,47% yoy seiring meningkatnya konsumsi makanan jadi pada jasa penyediaan makanan dan minuman. Kemudian, konsumsi pada transportasi dan komunikasi juga tumbuh mencapai 5,71% didorong penggunaan transportasi pribadi dan pembelian kendaraan bermotor serta perbaikannya.
Di posisi kedua, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh sebesar 6,87% yoy dengan kontribusi 29,36% yoy. Pertumbuhan PMTB didorong oleh sub komponen kendaraan yang tumbuh sebesar 26,03% yoy, sub komponen peralatan lainnya 16,18% yoy baik dari domestik maupun impor, dan sejalan dengan peningkatan realisasi investasi di BKPM sebesar 7,14%.
“Keduanya merupakan komponen dengan kontribusi terbesar ke pertumbuhan ekonomi kuartal II 2026 (Konsumsi dan PMTB) dengan total kontribusi mencapai 82,68% yoy,” ungkapnya.
Baca Juga: Garis Kemiskinan Naik 4,33% pada Maret 2026, Pengeluaran Minimum Rp 669.000
Selanjutnya, komponen dengan pertumbuhan tertinggi yakni konsumsi pemerintah yang tumbuh sebesar 15,97% yoy, namun kontribusinya hanya mencapai 7,57% yoy terhadap pertumbuhan ekonomi.
“Konsumsi pemerintah ini didorong oleh peningkatan realisasi belanja pegawai serta belanja barang dan jasa,” jelasnya.
Sebagaimana diketahui pada periode tersebut terdapat pembayaran gaji ke 13 untuk ASN/TNI/Polri serta akselerasi pembayaran tunjangan tenaga pendidik non PNS. Serta adanya peningkatan belanja barang dan jasa terutama pada program MBG.
Lebih lanjut, kinerja ekspor juga masih menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi dengan pertumbuhan mencapai 4,13% yoy, dan kontribusinya mencapai 23,13% yoy.
Kemudian, konsumsi Lembaga Non-Profit yang Melayani Rumah Tangga (LNPRT) mencapai 6,91% yoy, dengan kontribusi 1,35% yoy.
Terakhir adalah impor dengan pertumbuhan 8,82% yoy. Namun kinerja impor memberikan kontribusi negatif sebesar 24,05% terhadap pertumbuhan ekonomi periode tersebut.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
