Reporter: Yudho Winarto | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menghadapi potensi dampak El Niño kuat pada 2026.
BMKG menegaskan informasi iklim yang akurat dan dapat ditindaklanjuti menjadi kunci agar pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat melakukan langkah mitigasi lebih dini.
Komitmen tersebut disampaikan Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, dalam Dialog Nasional bertajuk Memperkuat Respons Lintas Sektor dalam Menghadapi Dampak El Niño Kuat yang diselenggarakan Kementerian PPN/Bappenas di Jakarta, Selasa (4/8/2026).
Baca Juga: Akan Disubsidi Hingga 40%, Cek Daftar Mobil Listrik Harga Rp 200 Jutaan
Faisal mengatakan, El Niño bukan sekadar fenomena iklim, melainkan tantangan pembangunan yang berdampak pada berbagai sektor, mulai dari ketahanan pangan, sumber daya air, energi, kesehatan, kehutanan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
"El Niño merupakan tantangan yang berdampak pada berbagai sektor pembangunan nasional. Membangun ketahanan menghadapi El Niño memerlukan kesiapsiagaan lintas sektor yang didukung oleh informasi iklim yang akurat, tepat waktu, dan dapat dipertanggungjawabkan," ujar Faisal.
BMKG mencatat El Niño saat ini telah berada pada kategori kuat dan berpotensi meningkat menjadi sangat kuat. Kondisi tersebut diperkirakan menyebabkan musim kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dan lebih panjang, terutama pada Agustus hingga September.
BMKG menjelaskan, El Niño bukanlah musim kemarau, melainkan fenomena iklim global yang dapat memperkuat dampak musim kemarau ketika keduanya terjadi secara bersamaan.
Baca Juga: Awas! Tekanan Darah Jutaan Remaja RI Di Atas Normal, Cek Cara Menurunkan Darah Tinggi
Akibatnya, risiko kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, gangguan produksi pangan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), serta gangguan pada sektor energi, kesehatan, dan aktivitas ekonomi berpotensi meningkat.
Sebagai langkah antisipasi, BMKG mengaku telah menyampaikan prediksi kemunculan El Niño sejak Maret 2026. Dengan demikian, kementerian, lembaga, pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan langkah mitigasi.
BMKG juga terus memperkuat pendekatan From Early Warning to Early Action, yakni memastikan setiap informasi iklim dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di berbagai sektor.
Pendekatan tersebut diwujudkan melalui penyediaan prediksi El Niño-Southern Oscillation (ENSO), prakiraan musim dan curah hujan, analisis dampak sektoral, sistem peringatan dini kekeringan dan kebakaran hutan, layanan informasi iklim berbasis sektor, hingga dukungan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
"Informasi iklim harus diterjemahkan menjadi tindakan nyata sehingga pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dapat melakukan langkah antisipatif sebelum dampak terjadi," kata Faisal.
Baca Juga: Operasi SAR Darurat KMP Mutiara Sentosa II Berakhir, Posko Pengaduan Tetap Dibuka
Menurutnya, layanan informasi BMKG kini dirancang semakin spesifik sesuai kebutuhan masing-masing sektor, mulai dari penyusunan kalender tanam adaptif, pengelolaan sumber daya air, mitigasi karhutla, hingga dukungan bagi sektor kesehatan dan energi.
Dengan begitu, informasi iklim tidak hanya menjadi referensi ilmiah, tetapi juga menjadi dasar penyusunan kebijakan yang berdampak langsung bagi perlindungan masyarakat.
Pada kesempatan yang sama, Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menegaskan bahwa perubahan iklim harus menjadi bagian integral dalam perencanaan pembangunan nasional.
Menurut Rachmat, dialog nasional tersebut menjadi momentum untuk memperkuat aksi dini (early action) yang terpadu, terukur, dan berbasis analisis iklim.
Ia menilai peran BMKG sangat strategis karena informasi yang dihasilkan menjadi landasan dalam menjaga ketahanan pangan, energi, dan sumber daya air, sekaligus mendukung pemerintah menetapkan kebijakan secara cepat dan tepat di wilayah terdampak.
"Kita harus memastikan bahwa respons yang kita bangun tidak lagi bersifat reaktif, melainkan sebuah early action yang terpadu, terukur, dan berakar kuat pada analisis iklim. Dengan landasan yang kuat, kita tidak hanya menjaga keberlanjutan pembangunan nasional, tetapi juga membuktikan ketangguhan bangsa Indonesia menghadapi dinamika iklim global," ujar Rachmat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
