Reporter: Chelsea Anastasia | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) mencatat neraca perdagangan Indonesia surplus US$ 2,66 miliar pada November 2025, naik dari surplus Oktober 2025 yang sebanyak US$ 2,39 miliar.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, surplus neraca perdagangan pada November 2025 tersebut didorong kinerja positif di sektor nonminyak dan gas (nonmigas).
Pada periode yang sama, neraca perdagangan nonmigas berhasil mencatatkan surplus US$ 4,64 miliar. Sementara itu, neraca minyak dan gas (migas) defisit US$ 1,98 miliar.
“Capaian neraca perdagangan pada November 2025 melanjutkan tren surplus untuk 67 bulan berturut-turut sejak Mei 2020,” ungkap Budi dalam keterangan resmi, Selasa (6/1/2026).
Baca Juga: Pemerintah Bakal Groundbreaking 6 Proyek Hilirisasi di Bulan Ini
Adapun secara kumulatif, neraca perdagangan pada Januari–November 2025 surplus sebesar US$ 38,54 miliar. Nilai tersebut lebih tinggi dibandingkan Januari–November 2024 yang sebesar US$ 29,24 miliar.
Surplus periode ini terutama didorong surplus nonmigas sebesar US$ 56,15 miliar dan defisit migas sebesar US$ 17,61 miliar.
Sedangkan, surplus nonmigas pada Januari–November 2025 sebagian besar disumbang oleh perdagangan dengan beberapa negara mitra utama.
“Di antaranya, Amerika Serikat (AS) sebesar US$ 19,21 miliar, disusul India US$ 12,16 miliar, serta Filipina US$ 7,72 miliar,” kata Budi.
Pada November 2025, ekspor Indonesia mencapai US$ 22,52 miliar atau turun 7,08% dibanding Oktober 2025 (month-on-month/MoM).
Budi menjelaskan, penurunan ini terutama didorong turunnya ekspor nonmigas sebesar 7,30% (MoM) dan turunnya ekspor migas sebesar 1,25%. Ia menyampaikan, secara kumulatif, total ekspor Indonesia pada Januari–November 2025 adalah sebesar US$ 256,56 miliar.
Baca Juga: Biaya Sumur Bor Rp 150 Juta di Lokasi Bencana, BNPB: Setiap Rupiah Akan Diaudit
“Tiga komoditas nonmigas utama dengan pertumbuhan ekspor tertinggi pada Januari–November 2025 adalah aluminium dan barang daripadanya (HS 76) yang naik hingga 57,69%; berbagai produk kimia (HS 38) naik 48,02%; serta kakao dan olahannya (HS 18) naik 44,06%,” imbuh Budi.
Selanjutnya: Nilai Rupiah Berfluktuasi, Likuiditas Valas Perbankan Masih Terjaga
Menarik Dibaca: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












