Reporter: kompas.com | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari memastikan, setiap rupiah uang negara pasti akan diaudit, termasuk biaya pengeboran sumur di lokasi bencana Sumatera Rp 150.000.000.
"Yang pasti tentu saja setiap rupiah uang negara yang kita gunakan itu akan diaudit dan ini tentu saja akan menjadi standar akuntabilitas dari uang tanggap darat yang kita gunakan," kata Abdul Muhari di Kantor Graha BNPB, Jakarta Timur, Selasa (6/12/2025).
Saat rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto, Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak membahas soal pengeboran sumur untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Baca Juga: Negosiasi Tarif RI–AS Lanjut Pekan Depan, Prabowo Siap Teken Kesepakatan
"Sebenarnya ini kan juga diamini oleh Bapak Kasad dan Bapak Presiden sendiri juga teman-teman juga mendengar respons Bapak Presiden," ucapnya.
Abdul Muhari menjelaskan, dana tersebut digunakan untuk sumur bor komunal di mana pengeboran tergantung dengan kedalamannya.
"Pertama ini adalah sumur bor komunal dan di beberapa tempat memang tergantung kedalaman dan lain-lain secara teknis gitu ya," ucapnya.
Karena itu, nantinya akan terlihat berapa biaya yang dibutuhkan dari pengeboran setiap sumur bor komunal.
"Ini akan kita lihat nantinya anggaran yang terpakai itu berapa besar," kata dia.
Sebelum bencana Sumatera, Abdul menuturkan bahwa TNI AD maupun BNPB juga pernah membangun sumur serupa di NTT.
"Yang pasti ini baik itu TNI Angkatan Darat, baik itu BNPB, kita sebelum terjadi bencana ini juga kita sudah membangun sumur bor yang sama di NTT," ucapnya.
Aliran air yang dihasilkan dari sumur bor komunal itu dapat digunakan hingga lebih dari 300 Kepala Keluarga.
"Itu daerah-daerah yang cukup sulit dan ini mengairi lebih dari kadang-kadang lebih dari 200-300 KK dalam satu kawasan gitu," ucapnya.
Alasan Biaya Pengeboran Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak juga telah menjelaskan alasan biaya pengeboran sumur di lokasi bencana Sumatera membutuhkan anggaran Rp 150 juta.
Eks Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) tersebut menekankan, pengeboran untuk satu rumah sangat berbeda dengan pengeboran yang diperuntukkan bagi satu desa. Baca juga: Sumur Bor Rp150 Juta, Wajarkah?
“Kalau hanya untuk satu rumah, mungkin bisa saja yang kayak di rumah-rumah kita. Rumah saya di Bandung, mungkin enggak sampai Rp 10 juta, jadi tuh air, hanya untuk kepentingan satu keluarga,” jelas dia di Satangair Pusbekangad, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (6/1/2026).
Karena diperuntukkan bagi satu desa, pengeboran harus menggunakan sumur dalam dengan kedalaman puluhan hingga ratusan meter untuk menjangkau lapisan air tanah.
"Prosesnya ya cukup rumit, tidak seperti membuat sumur-sumur yang di rumah-rumah yang hanya mungkin 20 meter. Beberapa daerah di Indonesia ini, banyak daerah-daerah yang sumber airnya sulit. Kalau gampang, dari dulu sudah ada airnya di sana," tegas dia.
Baca Juga: Aturan Pengawasan Wajib Pajak Dinilai Tak Efektif Tingkatkan Kepatuhan Masyarakat
Sumber: https://nasional.kompas.com/read/2026/01/06/19205701/sumur-bor-rp-150-juta-di-lokasi-bencana-sumatera-bnpb-setiap-rupiah-uang.
Selanjutnya: CMRY Kejar Pertumbuhan Kinerja Berkelanjutan, Ini Prospeknya untuk Jangka Panjang
Menarik Dibaca: 8 Mitos tentang Kolesterol yang Tidak Perlu Dipercaya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News












