kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.542   42,00   0,24%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Sri Mulyani akui sulit jaga pertumbuhan ekonomi 5% bila perang dagang berlanjut


Rabu, 15 Mei 2019 / 18:37 WIB


Reporter: Benedicta Prima | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perang dagang Amerika Serikat (AS) dengan China sempat memanas beberapa hari terakhir. Meski sudah kembali tenang, tapi belum ada kesepakatan apa pun di antara kedua negara ekonomi terbesar dunia tersebut. Karena itu, diprediksi perang dagang akan berlangsung lama.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pihaknya memprediksi  kondisi ini akan berlangsung lama. "Situasi ini tidak akan reda dalam jangka pendek karena pola konfrontasi head to head. Sehingga untuk dua negara besar ini diplomasi menjadi lebih sulit," jelas Sri Mulyani di kantor Kementerian ESDM, Rabu (15/5).

Situasi tersebut juga akan membayangi Indonesia dalam jangka panjang. Sehingga membuat Indonesia sulit menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%. "Sinyal gambaran ekonomi dunia alami situasi tidak mudah dan Indonesia dalam hal ini jika ingin tetap menjaga pertumbuhan ekonomi di atas 5%," ujar Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia ini.

Pasalnya perang dagang akan membuat pertumbuhan ekonomi global menjadi rendah, inflasi tinggi dan perdagangan global melambat. Sehingga, Indonesia sulit menggantungkan ekspor sebagai mesin pertumbuhan ekonomi.

Kendati begitu, Indonesia bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri sendiri terutama untuk menopang kebutuhan industri manufaktur. Hanya saja ini juga akan mempengaruhi industri, karena keterbatasan ketersediaan.

Perlambatan impor pada data neraca dagang April 2019 juga sudah diwaspadai Sri Mulyani. Pasalnya secara tahunan impor yang turun terutama dibutuhkan oleh industri manufaktur. BPS mencatat bahan baku turun 6,28% yoy sedangkan barang modal turun 8,68% yoy.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×