Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Nilai tukar rupiah diprediksi akan menghadapi tekanan berat sepanjang bulan Februari ini.
Gejolak pasar menyusul peringatan dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang Garuda.
Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, situasi pasar saat ini memberikan dampak negatif yang cukup signifikan terhadap stabilitas rupiah.
Baca Juga: Belanja Negara Tertahan, Bansos, THR, dan Ramadan Jadi Mesin Ekonomi Kuartal I 2026
Menurutnya, ketidakpastian yang muncul pasca peringatan MSCI memicu kekhawatiran di kalangan investor.
"Hal ini sangat berdampak negatif terhadap rupiah. Saat ini, Bank Indonesia (BI) hanya bisa melakukan intervensi untuk menjaga rupiah," ujar Lukman kepada Kontan.co.id, Minggu (1/2/2026).
Lebih lanjut, Lukman menekankan bahwa peran pemerintah sangat krusial dalam situasi ini. Ia mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah konkret dalam menyelesaikan permasalahan yang memicu sentimen negatif tersebut guna menjaga kepercayaan pasar.
"Pemerintah mesti segera menyelesaikan masalah ini. Selanjutnya, kita menantikan hasil pertemuan dengan MSCI besok senin," katanya.
Terkait proyeksi nilai tukar, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak di zona merah dengan rentang yang cukup lebar. Ia memprediksi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan berada di kisaran Rp 16.700 hingga Rp 16.850.
Baca Juga: Ujian Berat Stabilitas Keuangan Nasional di Awal Februari 2026
Selanjutnya: Dukung MBG, Bulog Siap Pasok Beras Berkualitas
Menarik Dibaca: Harga emas Galeri 24 dan UBS di Pegadaian hari ini Minggu (1/2/2026) Kompak Turun
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













