kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.635.000   3.000   0,11%
  • USD/IDR 17.911   11,00   0,06%
  • IDX 6.334   -5,54   -0,09%
  • KOMPAS100 835   -3,80   -0,45%
  • LQ45 633   -4,09   -0,64%
  • ISSI 218   -0,18   -0,08%
  • IDX30 356   -2,06   -0,58%
  • IDXHIDIV20 441   -2,49   -0,56%
  • IDX80 95   -0,52   -0,54%
  • IDXV30 119   0,04   0,03%
  • IDXQ30 114   -0,74   -0,65%

Selesai geledah, polisi bawa 3 CPU milik DPRD DKI


Senin, 27 April 2015 / 22:18 WIB
ILUSTRASI. Nonton Kage no Jitsuryokusha ni Naritakute Season 2 Episode 7, Streaming di Bstation


Sumber: Kompas.com | Editor: Sanny Cicilia

JAKARTA. Bareskrim Polri telah menyelesaikan proses penggeledahan di gedung DPRD DKI pada sekitar pukul 21.00, Senin (27/4) malam. Saat meninggalkan gedung yang berlokasi di Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat itu, polisi membawa satu dus berisi tumpukan dokumen; satu perekam digital; dan tiga unit central processor unit (CPU).

Penggeledahan dilakukan sejak sekitar pukul 15.00. Ada tiga ruangan yang digeledah, yakni ruang kerja Wakil Ketua DPRD Abraham "Lulung" Lunggana yang berada di lantai sembilan; ruang kerja Sekretaris Komisi E Fahmi Zulfikar di kantor Fraksi Hanura di lantai lima; dan sekretariat Komisi E di lantai satu. 

Total ada 16 orang penyidik yang diterjunkan dalam penggeledahan yang dilakukan terkait dengan pengusutan kasus korupsi pengadaan uninterruptible power supply (UPS) pada tahun 2014 itu. 

Mereka dipimpin oleh Kepala Subdirektorat V Tipikor Bareskrim Polri Komisaris Besar Muhammad Ikram. Sebelum meninggalkan gedung DPRD, Ikram sempat memberikan sedikit keterangan.

Menurut dia, penggeledahan bukan disebabkan karena mangkirnya Lulung dan Fahmi pada pemanggilan tadi pagi. "Ini memang sudah kita rencanakan," ujar Ikram. 

Sebagai informasi, pada 2014, tepatnya saat terjadinya dugaan tindak pidana korupsi pengadaan UPS, Lulung masih menjabat sebagai koordinator Komisi E. Sedangkan Fahmi adalah salah satu anggotanya. 

Dalam kasus ini, polisi telah menetapkan dua tersangka, yakni Alex Usman dan Zaenal Soleman. 

Alex diduga melakukan korupsi saat menjabat sebagai pejabat pembuat komitmen (PPK) pengadaan UPS Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Barat, sedangkan Zaenal Soleman saat menjadi PPK pengadaan UPS Suku Dinas Pendidikan Menengah Jakarta Pusat. (Alsadad Rudi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Strategi Implementasi PP 20 tahun 2026 (PPh Final UMKM) dan Mitigasi Risiko SP2DK

[X]
×