kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.774.000   0   0,00%
  • USD/IDR 18.000   153,00   0,86%
  • IDX 5.941   -254,36   -4,11%
  • KOMPAS100 785   -38,94   -4,72%
  • LQ45 589   -30,28   -4,89%
  • ISSI 206   -8,52   -3,97%
  • IDX30 334   -15,73   -4,50%
  • IDXHIDIV20 412   -15,89   -3,71%
  • IDX80 89   -4,83   -5,16%
  • IDXV30 113   -4,09   -3,48%
  • IDXQ30 108   -4,46   -3,97%

Sektor Padat Karya Tertekan, Apindo Wanti-Wanti Risiko PHK Mengintai di 2026


Senin, 29 Desember 2025 / 18:55 WIB
Sektor Padat Karya Tertekan, Apindo Wanti-Wanti Risiko PHK Mengintai di 2026
ILUSTRASI. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) masih membayangi, terutama pada sektor-sektor padat karya. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN)


Reporter: Arif Ferdianto | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Dunia usaha mulai memasang mode waspada menghadapi tahun 2026. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut, risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) masih membayangi, terutama pada sektor-sektor padat karya yang saat ini sedang mengalami tekanan hebat akibat tipisnya margin keuntungan.

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengatakan, ancaman PHK perlu diantisipasi secara serius di sektor tekstil, alas kaki, furnitur, hingga industri berbasis ekspor. Sinyal bahaya ini kian nyata mengingat angka PHK hingga November 2025 telah menembus lebih dari 79.000 orang.

"Margin industri padat karya saat ini sangat tipis. Di sektor alas kaki misalnya, margin keuntungan rata-rata hanya sekitar 5%, sehingga ruang untuk menyerap tambahan biaya, termasuk kenaikan upah, sangat terbatas," ujar Bob kepada Kontan.co.id, Senin (29/12/2025).

Baca Juga: Cegah Gelombang PHK, Apindo Perlu Investasi Baru dan Peningkatan Skill Pekerja

Bob mengungkapkan, kondisi sulit ini juga tercermin dari data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Kuartal III-2025. Sejumlah subsektor manufaktur tercatat tumbuh di bawah rata-rata nasional atau bahkan terkontraksi. Sektor furnitur menjadi yang terdalam dengan kontraksi mencapai 4,34% year on year (yoy), disusul industri karet dan plastik sebesar 3,2% (yoy).

Bahkan, industri strategis seperti tekstil dan pakaian jadi hanya mampu tumbuh tipis 0,93% (yoy). Bob menilai, tanpa adanya kebijakan mitigasi yang memadai dari pemerintah, tambahan beban biaya operasional akan memaksa perusahaan mengambil langkah efisiensi ekstrem, yakni pengurangan tenaga kerja.

Bob juga menyoroti kebijakan Upah Minimum Provinsi (UMP). Menurutnya, di beberapa daerah seperti Aceh, Sumatera Selatan, hingga Sulawesi Utara, nilai UMP saat ini sudah berada di atas Kebutuhan Hidup Layak (KHL).

"Kondisi ini menunjukkan bahwa isu utama ketenagakerjaan tidak semata pada level upah, tetapi pada keberlanjutan usaha, produktivitas, dan kualitas tenaga kerja," ujarnya.

Apindo menekankan, tekanan biaya yang terus membengkak tanpa dibarengi perbaikan produktivitas justru akan menjadi bumerang bagi penciptaan lapangan kerja. Dunia usaha pun meminta pemerintah lebih bijak dalam meramu kebijakan yang tidak hanya fokus pada daya beli, tapi juga daya saing industri.

"Kebijakan yang efektif harus bersifat menyeluruh, menjaga kesejahteraan pekerja sekaligus memastikan dunia usaha tetap berdaya saing, agar penciptaan lapangan kerja dapat berlangsung secara berkelanjutan," kata Bob.

Baca Juga: Korban PHK 2025 Tembus 79.000, Ini Cara Cepat Klaim JKP: Panduan Pekerja Ter-PHK

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Supply Chain End-to-End: From Forecast to Customer Value

[X]
×