Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
Lipstick effect merupakan manifestasi dari apa yang disebut ekonom sebagai efek pendapatan. Para ekonom memecah permintaan konsumen terhadap suatu produk menjadi kombinasi antara dampak harga suatu barang dibanding barang lain, yang dikenal sebagai efek substitusi, serta pendapatan konsumen yang dikenal sebagai efek pendapatan.
Untuk barang normal, ketika pendapatan konsumen meningkat maka permintaan juga meningkat. Namun, untuk beberapa barang yang disebut barang inferior, kenaikan pendapatan justru melemahkan permintaan, dan sebaliknya.
Ketika pendapatan konsumen menurun, mereka akan mengurangi pembelian barang mewah bernilai besar yang tidak lagi mampu dibeli, lalu mengalihkan sisa pendapatan diskresioner mereka ke barang-barang mewah kecil.
Lipstick effect menjadi salah satu alasan mengapa restoran cepat saji premium dan bioskop biasanya tetap ramai saat resesi. Konsumen yang mengalami tekanan keuangan tetap ingin memanjakan diri dengan sesuatu yang membuat mereka melupakan masalah finansial.
Mereka mungkin tidak mampu berlibur ke Bermuda, tetapi masih memilih hiburan yang lebih murah seperti makan malam sederhana dan menonton film sambil menyesuaikan anggaran.
Tonton: Pemerintah Bentuk Danantara Sumberdaya Indonesia, Kendalikan Ekspor SDA Strategis
Dasar teori lain dari lipstick effect adalah pasar tenaga kerja menjadi lebih kompetitif selama resesi ekonomi. Kondisi ini dapat mendorong pencari kerja untuk mengeluarkan lebih banyak uang pada barang yang meningkatkan daya tarik mereka dibanding kandidat lain demi mendapatkan atau mempertahankan pekerjaan.
Salah satu caranya adalah dengan lebih memperhatikan penampilan melalui penggunaan kosmetik yang lebih baik atau lebih banyak.
Tabel: Memahami Fenomena Lipstick Effect
| Aspek | Penjelasan |
|---|---|
| Definisi Lipstick Effect | Fenomena konsumen tetap membeli barang kecil bernilai premium saat ekonomi sulit |
| Pencetus Istilah | Leonard Lauder dari Estee Lauder |
| Muncul Populer | Tahun 2001 |
| Contoh Produk | Lipstik, kopi premium, skincare, makanan mahal |
| Penyebab | Konsumen mencari hiburan atau kepuasan kecil di tengah tekanan ekonomi |
| Kondisi di Indonesia | Dinilai lebih dekat ke perubahan gaya hidup dibanding lipstick effect murni |
| Pendapat Ekonom UGM | Aktivitas di mal dan kafe belum tentu sinyal krisis konsumsi |
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/21/063000765/rupiah-melemah-tapi-mal-dan-kafe-tetap-ramai-apakah-indonesia-alami?page=all#page1
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













