Sumber: Kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah berada di level Rp 17.602 per dollar Amerika Serikat (AS) berdasarkan kurs pada Minggu (17/5/2026).
Nilai tukar rupiah tersebut diketahui menjadi yang terendah selama sepekan terakhir setelah beberapa hari sebelumnya masih di angka sekitar Rp 17.500.
Penurunan nilai mata uang rupiah atas dollar AS memicu kekhawatiran terutama bagi masyarakat, yang mempertanyakan mengenai kondisi perekonomian Indonesia saat ini.
Dalam keterangannya, anggota Komisi XI DPR Eric Hermawan meminta Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) guna meredam pelemahan nilai tukar rupiah.
"Bank Indonesia siang malam menjaga BI Rate supaya stabil, dan saya menyarankan ke BI agar menaikkan suku bunga agar ada perimbangan dollar, sehingga (dollar) turun," kata Eric, dikutip dari Kompas.com, Minggu (17/5/2026).
Masyarakat pun mempertanyakan, apakah rupiah berpotensi menguat dalam waktu dekat.
Baca Juga: BGN Minta Masyarakat Laporkan Dugaan Pungli dan Penipuan Pengajuan SPPG MBG
Kemungkinan rupiah menguat masih ada
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin mengatakan bahwa kemungkinan rupiah menguat masih ada.
"Apresiasi dan depresiasi rupiah tergantung dari berbagai kombinasi faktor, baik domestik maupun global. Jadi, kemungkinan rupiah menguat tentu ada," kata Eddy ketika dihubungi Kompas.com pada Kamis (14/5/2026).
Meski ada intervensi dari Bank Indonesia, Eddy mengatakan bahwa mata uang seperti halnya "barang ekonomi", di mana harga ditentukan oleh mekanisme pasar.
"Intervensi terbatas tentu dapat dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) untuk menstabilkan nilai tukar rupiah, namun itu tidak bisa dilakukan secara berkelanjutan," kata Eddy.
Ia mengatakan tetap ada faktor-faktor fundamental dan teknikal yang akan memandu mekanisme pasar dalam menentukan nilai tukar equilibrium (keseimbangan).
Tantangan serius yang dihadapi BI
Lebih lanjut, Eddy mengatakan BI menurutnya saat ini telah menerapkan sejumlah kebijakan yang memang harus dilakukan.
"Saya kira BI sebagai penguasa moneter sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan, yaitu kebijakan policy rate yang stabil, intervensi terbatas untuk menstabilkan exchange rate rupiah terhadap mata uang lain, quantitative easing yang siap dilakukan bila kepepet, dan lainnya," kata Eddy.
Ia mengatakan, pada dasarnya BI sedang menghadapi dilema antara inflation management (menjaga inflasi) atau full employment (menjaga pertumbuhan dan pekerjaan masyarakat).
Menurutnya terdapat tantangan serius yang dihadapi oleh BI dalam menstabilkan perekonomian Indonesia.
Tonton: Dam Haji Bikin Polemik! Buya Gusrizal Jelaskan Kenapa Ada Dua Fatwa Berbeda
"Yang barangkali menjadi tantangan serius adalah bagaimana kebijakan fiskal dan kebijakan nonekonomi menyokong upaya menstabilkan perekonomian, termasuk manajemen nilai tukar rupiah," kata Eddy.
Tantangan tersebut antara lain:
- Kebijakan fiskal yang diarahkan untuk memberikan insentif pajak dan nonpajak kepada para wirausaha agar dapat tumbuh dan menciptakan lapangan kerja
- Efisiensi pengeluaran pemerintah tanpa mengurangi kualitas layanan
- Menjaga rasio defisit anggaran terhadap GDP yang sehat (di bawah 3%)
- Menjaga rasio utang terhadap GDP yang sehat (di bawah 60%)
- Menjaga stabilitas keamanan nasional
- Menjaga kepastian hukum dan penerapan hukum yang sehat untuk masyarakat dan dunia usaha.
Faktor Penentu Penguatan/Pelemahan Rupiah Menurut Ekonom UGM
| Faktor | Keterangan | Dampak ke Rupiah |
|---|---|---|
| Faktor global | Kondisi ekonomi dunia dan tekanan eksternal | Bisa melemahkan atau menguatkan tergantung situasi |
| Faktor domestik | Stabilitas ekonomi nasional dan kebijakan dalam negeri | Menentukan kepercayaan pasar |
| Mekanisme pasar | Kurs ditentukan permintaan-penawaran | Rupiah bergerak sesuai pasar |
| Intervensi BI | BI bisa menstabilkan kurs melalui intervensi terbatas | Efektif jangka pendek, tidak berkelanjutan |
| Fundamental & teknikal | Faktor ekonomi riil + analisis teknikal pasar | Menentukan nilai tukar equilibrium |
| Kebijakan suku bunga | BI Rate dijaga stabil, ada usulan dinaikkan | Bisa menahan pelemahan rupiah |
| Kebijakan fiskal | Insentif pajak/nonpajak dan pengelolaan anggaran | Bisa memperkuat daya tahan ekonomi |
| Defisit anggaran | Dijaga di bawah 3% GDP | Menjaga persepsi stabilitas fiskal |
| Rasio utang | Dijaga di bawah 60% GDP | Menjaga kepercayaan investor |
| Stabilitas keamanan & hukum | Stabilitas nasional dan kepastian hukum | Mengurangi risiko investasi |
Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/17/173100165/akankah-rupiah-menguat-setelah-menyentuh-rp-17.602-per-dollar-as-ini-kata?source=headline.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













