kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.769.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.586   33,00   0,19%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Cara Komunikasi Prabowo soal Pelemahan Rupiah Menuai Kritik, Ini Kata Ekonom


Minggu, 17 Mei 2026 / 14:31 WIB
Cara Komunikasi Prabowo soal Pelemahan Rupiah Menuai Kritik, Ini Kata Ekonom
ILUSTRASI. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai meremehkan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap masyarakat di pedesaan menuai kritik.(AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang dinilai terlalu meremehkan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kehidupan masyarakat, khususnya di pedesaan menuai kritik dari sejumlah kalangan.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat hingga menyentuh level Rp 17.600 per dolar AS tidak bisa dianggap sepele karena efeknya akan merembet langsung pada kenaikan biaya hidup masyarakat.

"Prabowo kayaknya perlu di-briefing soal ekonomi 101. Jangan dikira pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar itu tidak akan menjalar ke biaya hidup yang naik di level desa," ujar Bhima kepada KONTAN, Minggu (17/5/2026).

Baca Juga: Kadin China Protes ke Pemerintah, Regulasi Mendadak Turunkan Minat Investasi Asing

Menurut dia, pemerintah saat ini terlalu mengandalkan kebijakan subsidi energi untuk menahan dampak pelemahan rupiah. Padahal, struktur ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih terintegrasi dengan ekonomi global dibandingkan saat krisis 1998.

Bhima menjelaskan, pada masa krisis 1998 masyarakat masih memiliki alternatif ketika harga energi melonjak, misalnya beralih dari minyak tanah ke kayu bakar. Namun kondisi saat ini berbeda karena ketergantungan masyarakat terhadap energi modern dan produk impor jauh lebih tinggi.

Ia juga menyoroti anggapan bahwa masyarakat desa tidak terdampak fluktuasi dolar AS. Menurut Bhima, masyarakat pedesaan tetap menggunakan berbagai barang yang memiliki komponen impor, mulai dari telepon genggam, kendaraan bermotor, peralatan elektronik rumah tangga, hingga pupuk pertanian.

Selain kenaikan harga barang, Bhima juga memperingatkan potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) apabila tekanan ekonomi terus berlanjut. Ia menilai kondisi tersebut dapat memicu perpindahan pekerja dari kota kembali ke desa tanpa pekerjaan maupun penghasilan tetap.

“Desa itu akan dibanjiri oleh mereka yang jadi korban PHK di perkotaan, kembali lagi ke desa tapi dalam posisi tidak bekerja, tidak berpenghasilan. Kan akan jadi beban desa," imbuh Bhima.

Bhima menilai pemerintah seharusnya mulai menyiapkan langkah antisipasi menghadapi kemungkinan memburuknya situasi ekonomi global, termasuk melalui stimulus dan komunikasi publik yang lebih realistis.

Baca Juga: Prabowo Pede Jadi Pemasok Pupuk Global, Klaim Ada Permintaan dari Berbagai Negara

"Jadi kami sangat menyesalkan Prabowo terlalu menganggap enteng situasi sekarang," katanya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto menanggapi kekhawatiran terkait pelemahan rupiah di tengah memanasnya tensi geopolitik global. 

Sebagai catatan, dalam peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026), Prabowo menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih cukup kuat karena ditopang ketahanan pangan dan energi nasional.

Prabowo juga menilai masyarakat pedesaan relatif lebih tahan menghadapi gejolak ekonomi global.

"Sekarang ada yang selalu bilang Indonesia akan collapse, akan chaos, rupiah begini, dolar begini. Orang rakyat di desa enggak pakai dolar kok," kata Prabowo.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×