Reporter: Barratut Taqiyyah Rafie, kompas.com | Editor: Barratut Taqiyyah Rafie
KONTAN.CO.ID - Istilah lipstick effect belakangan ramai dibahas di media sosial setelah muncul unggahan yang menyoroti kondisi pusat perbelanjaan, restoran, dan kafe di Indonesia yang masih ramai meski nilai tukar Rupiah terus melemah terhadap dollar AS.
Unggahan tersebut menyebut, masyarakat Indonesia tetap aktif berbelanja, mengantre kopi, hingga membeli makanan dan minuman premium di tengah kondisi ekonomi yang dinilai sedang sulit.
“Kalian ngerasa enggak sih, mal masih rame, antrean kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah. Nama fenomena ini adalah lipstick effect. Dan ini justru sinyal bahaya,” tulis akun X @T***** pada Minggu (17/5/2026).
Adapun nilai tukar Rupiah sempat mencapai Rp 17.660 per dollar AS pada Rabu (20/5/2026), yang menjadi salah satu titik terlemah dalam beberapa hari terakhir.
Lantas, apakah kondisi tersebut benar menunjukkan Indonesia sedang mengalami lipstick effect?
Apa itu Lipstick Effect?
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Eddy Junarsin, menjelaskan lipstick effect pada dasarnya merupakan aktivitas semu untuk menutupi kondisi sebenarnya.
“Lipstick effect itu artinya melakukan sesuatu yang semu untuk menutupi kondisi yang sebenarnya,” terangnya, saat dihubungi Kompas.com, Selasa (19/5/2026).
Istilah tersebut pertama kali populer pada 2001 dan dikaitkan dengan Leonard Lauder, petinggi perusahaan kosmetik Estee Lauder.
Baca Juga: Rencana Layer Baru Cukai Rokok Berisiko Longgarkan Pelanggaran Hukum
Dilansir dari Forbes, Leonard Lauder menggunakan istilah lipstick effect untuk menggambarkan kecenderungan masyarakat membeli barang mewah berukuran kecil seperti lipstik saat ekonomi sedang lesu atau resesi.
Namun, menurut Eddy, fenomena yang ramai dibahas di media sosial saat ini tidak sepenuhnya tepat disebut sebagai lipstick effect.
“Kalau fenomena yang disebutkan di unggahan tampaknya bukan lipstick effect, tetapi lebih kepada lifestyle,” ujarnya.
Gaya hidup tidak langsung berubah
Eddy menilai kebiasaan atau gaya hidup masyarakat tidak bisa berubah secara instan meski kondisi ekonomi mengalami tekanan.
“Kebiasaan seseorang atau masyarakat tidak bisa berubah begitu saja meskipun keadaan berubah, misalnya inflasi impor meningkat karena depresiasi mata uang,” jelas dia.
Menurut Eddy, aktivitas seperti berbelanja di mal atau nongkrong di kafe bisa jadi merupakan bentuk gaya hidup yang sudah melekat di masyarakat Indonesia.
Ia mencontohkan, setiap negara memiliki cara berbeda dalam menikmati gaya hidup.
“Ada negara lain yang masyarakatnya menikmati lifestyle dengan pesiar, mengunjungi museum, melihat air terjun, dan sebagainya,” tambahnya.
Saran hadapi Rupiah melemah
Di tengah pelemahan Rupiah, Eddy menyarankan masyarakat mulai membaca peluang usaha, terutama yang berorientasi ekspor.
“Baca peluang ekspor, fokus wirausaha di bidang-bidang berorientasi ekspor,” kata dia.
Selain itu, ia menilai peningkatan kualitas pendidikan dan keterampilan juga menjadi hal penting yang perlu dipersiapkan masyarakat.
Menurut Eddy, kemampuan yang tidak mudah tergantikan oleh kecerdasan buatan atau AI akan semakin dibutuhkan di masa depan.
“Ke depan, kemampuan teknis akan banyak tergerus AI (machine learning), sehingga peran soft skills dan communication skills akan semakin penting,” jelasnya.
Sekilas mengenai lipstick effect
Lipstick effect menggambarkan tren konsumen di mana masyarakat membeli kemewahan kecil saat terjadi perlambatan ekonomi. Fenomena ini mencerminkan efek pendapatan dan efek substitusi ketika konsumen mengurangi pembelian barang mahal dan beralih ke barang mewah yang lebih terjangkau.
Gagasan ini mulai mendapat perhatian setelah Leonard Lauder mencatat peningkatan penjualan lipstik setelah serangan teroris tahun 2001, meskipun nilai indikator ini dalam membaca kondisi ekonomi dinilai terbatas, terutama saat resesi berat.
Baca Juga: BI Rate Naik ke 5,25%, Ekspansi Kredit Perbankan Diperkirakan Tertahan













