Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah terperosok dalam dan menjadi yang terlemah di kawasan Asia dengan menyentuh level Rp 17.300 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (23/4/2026).
Menghadapi tekanan tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan akan terus memperkuat berbagai instrumen intervensi di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah gejolak global yang meningkat.
Hingga pukul 09.35 WIB, rupiah tercatat berada di level Rp 17.310 per dolar AS atau melemah 0,74% dibandingkan penutupan hari sebelumnya di Rp 17.181 per dolar AS. Pelemahan ini menjadikan rupiah sebagai mata uang dengan tekanan terdalam di Asia.
Baca Juga: Rupiah Anjlok ke Rp 17.300, Pemerintah Sebut Akibat Meningkatnya Tekanan Global
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian global yang juga berdampak pada mata uang regional.
Meski demikian, pergerakan rupiah dinilai masih sejalan dengan tren kawasan dengan pelemahan year to date sebesar 3,54%.
BI, lanjut Destry, terus meningkatkan intensitas intervensi di berbagai pasar, baik di pasar offshore melalui non-deliverable forward (NDF), maupun di pasar domestik melalui spot dan domestic NDF (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Baca Juga: Ada Gejolak Global, Begini Langkah BI Jaga Rupiah dan Dorong Ekonomi
"Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya dampak konflik Timur Tengah," ungkap Destry dalam keterangan resminya, Kamis (23/4/2026).
Dari sisi fundamental, BI menyebut cadangan devisa Indonesia tetap kuat sebesar US$ 148,2 miliar pada akhir Maret 2026.
Destry menegaskan, Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas global yang masih tinggi.
Baca Juga: Gubernur BI: Rupiah Sudah Undervalued, Diproyeksi Menguat Seiring Fundamental Ekonomi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













