Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Gubernur Perry Warjiyo menegaskan langkah Bank Indonesia dalam memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah meningkatnya gejolak global.
Perry menjelaskan, bauran kebijakan BI mencakup kebijakan moneter, makroprudensial, serta sistem pembayaran yang diarahkan secara terintegrasi. Kebijakan moneter difokuskan untuk menjaga stabilitas dan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia, sementara kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap diarahkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi domestik.
Dari sisi moneter, BI terus memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi tetap dalam sasaran 2,5% plus minus 1%. Langkah tersebut ditempuh melalui peningkatan intensitas intervensi di pasar valas, baik di pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot domestik, maupun domestic NDF.
Baca Juga: Jemaah Haji Kloter Pertama Tiba di Madinah, Hotel Dekat Nabawi
“Intervensi kami terus dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Cadangan devisa kami sebesar US$ 148,2 miliar, masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi ini,” ujar Perry dalam konferensi pers virtual, Rabu (22/4/2026).
Selain intervensi di pasar, BI juga memperkuat kebijakan suku bunga instrumen moneter, termasuk penyesuaian struktur suku bunga Sekuritas Likuiditas Bank Indonesia (SRBI). Dalam sebulan terakhir, BI menaikkan suku bunga instrumen tersebut guna menarik aliran masuk modal portofolio asing, baik ke SRBI maupun Surat Berharg Negara (SBN), sehingga turut menopang stabilitas rupiah dan ketahanan eksternal.
Di sisi likuiditas, BI mendorong pertumbuhan uang primer (M0) tetap tinggi di kisaran dua digit. Pada bulan lalu, pertumbuhan M0 tercatat 11,8% dan ke depan ditargetkan tetap di atas 10% bahkan bisa mencapai 12%. Kebijakan ini dilakukan untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dan perbankan, sekaligus mendukung aktivitas ekonomi.
“Kebijakan ini sejalan dengan stance moneter yang ekspansif dari sisi likuiditas,” tambahnya.
Lebih lanjut, Perry menegaskan bahwa kebijakan moneter tersebut disinergikan erat dengan pemerintah. Kebijakan makroprudensial yang longgar, termasuk pemberian insentif likuiditas, serta penguatan sistem pembayaran terus didorong untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.
Sinergi antara BI dan pemerintah, khususnya melalui stimulus fiskal, diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi.
Baca Juga: BI: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat Hadapi Dampak Perang Timur Tengah
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













