kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.830.000   -50.000   -1,74%
  • USD/IDR 17.211   48,00   0,28%
  • IDX 7.542   -17,77   -0,24%
  • KOMPAS100 1.031   -8,30   -0,80%
  • LQ45 736   -7,70   -1,04%
  • ISSI 273   -0,06   -0,02%
  • IDX30 401   0,75   0,19%
  • IDXHIDIV20 492   5,09   1,05%
  • IDX80 115   -0,96   -0,82%
  • IDXV30 141   2,14   1,54%
  • IDXQ30 129   0,46   0,36%

Gubernur BI: Rupiah Sudah Undervalued, Diproyeksi Menguat Seiring Fundamental Ekonomi


Rabu, 22 April 2026 / 17:32 WIB
Gubernur BI: Rupiah Sudah Undervalued, Diproyeksi Menguat Seiring Fundamental Ekonomi
ILUSTRASI. Gubernur Bank Indonesia BI Perry Warjiyo (KONTAN/Ferry Saputra)


Reporter: Nurtiandriyani Simamora | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Gubernur Perry Warjiyo menegaskan nilai tukar rupiah saat ini berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) dibandingkan dengan fundamental ekonomi Indonesia yang terus membaik. Ke depan, rupiah diyakini akan stabil dan cenderung menguat seiring kuatnya fundamental domestik.

Menurut Perry, fundamental tersebut tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil aset keuangan domestik yang menarik, serta komitmen kuat otoritas dalam menjaga stabilitas nilai tukar.

“Secara fundamental nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat didukung oleh fundamental ekonomi,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Rabu (22/4/2026).

Baca Juga: Ada Gejolak Global, Begini Langkah BI Jaga Rupiah dan Dorong Ekonomi

Untuk itu, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah diperkuat di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global melalui intensifikasi intervensi di pasar valuta asing.

Intervensi dilakukan baik di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri (offshore), maupun transaksi spot dan domestic NDF (DNDF) di pasar dalam negeri. Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter untuk menarik aliran masuk investasi portofolio asing.

Tidak hanya itu, BI menyesuaikan kebijakan transaksi pasar valas melalui peningkatan threshold transaksi, baik untuk pembelian valas terhadap rupiah, penjualan DNDF/forward, maupun transaksi swap. Kebijakan ini mulai berlaku sejak April 2026.

Dengan berbagai langkah tersebut, nilai tukar rupiah relatif terjaga stabil. Per 21 April 2026, rupiah tercatat di level Rp 17.140 per dolar Amerika Serikat atau melemah 0,87% secara point to point dibandingkan posisi akhir Maret 2026.

Meski demikian, BI optimistis rupiah akan kembali menguat ke depan, ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi yang tetap baik, imbal hasil yang kompetitif, serta komitmen kebijakan yang konsisten.

Baca Juga: BI: Fundamental Ekonomi RI Tetap Kuat Hadapi Dampak Perang Timur Tengah

Secara keseluruhan, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap berada dalam kisaran 4,9% hingga 5,7%. Sementara inflasi diperkirakan tetap terjaga dalam sasaran 2,5% plus minus 1%.

Di sisi eksternal, defisit neraca transaksi berjalan diproyeksikan berada pada kisaran 0,5% hingga 1,3% terhadap produk domestik bruto (PDB). Adapun pertumbuhan kredit diperkirakan mencapai 8% hingga 12% seiring dengan terjaganya likuiditas dan permintaan pembiayaan.

“Nilai tukar akan kami jaga stabil dan akan cenderung menguat. Karena itu, penting untuk terus membangun optimisme terhadap perekonomian Indonesia,” tutup Perry.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Capital Structure

[X]
×