kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.550.000   10.000   0,39%
  • USD/IDR 18.154   7,00   0,04%
  • IDX 5.345   -27,79   -0,52%
  • KOMPAS100 695   -1,12   -0,16%
  • LQ45 541   -1,19   -0,22%
  • ISSI 182   -1,05   -0,57%
  • IDX30 303   -1,17   -0,38%
  • IDXHIDIV20 401   -0,16   -0,04%
  • IDX80 80   -0,14   -0,17%
  • IDXV30 112   1,01   0,90%
  • IDXQ30 101   -0,22   -0,21%

Rupiah nyaris sentuh Rp 14.000 per dolar AS, BI intervensi pasar obligasi dan DNDF


Kamis, 27 Februari 2020 / 14:22 WIB
ILUSTRASI. Petugas mengitung uang rupiah di salah satu gerai penukaran uang asing di Jakarta, Rabu (27/11/2019).


Reporter: Grace Olivia | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Nilai tukar rupiah kian tertekan menuju level Rp 14.000 per dollar AS siang ini, Kamis (27/2).  Mengacu pada pasar spot maupun kurs referensi  Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), nilai tukar mata uang Garuda tersebut telah terdepresiasi lebih dari 2% selama sepekan terakhir. 

Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendarsah mengatakan, pelemahan nilai tukar pada hari ini masih merupakan dampak dari pelepasan portofolio asing dari aset emerging markets termasuk Indonesia. 

Baca Juga: Rupiah hari ini menembus level Rp 14.000 per dolar AS di kurs Jisdor

“Investor keluar menuju aset yang dipandang lebih aman terutama obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS,” tutur Nanang saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (27/2). 

Meningkatnya arus pembelian obligasi AS, lanjut Nanang, juga menyebabkan yield instrumen tersebut menurun hingga level 1,3%.

Adapun Nanang memastikan, BI tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. 

“Kami tetap ada di pasar spot, bonds, dan DNDF untuk memastikan volatilitas kurs rupiah tetap terkelola dalam batas yang wajar,” kata Nanang. 

Baca Juga: Rupiah semakin melemah, BI perkuat intervensi

Ia menyebut, saat ini BI melakukan intervensi paling besar pada pasar obligasi domestik dan pasar DNDF. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×