kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.021.000   -21.000   -0,69%
  • USD/IDR 16.974   58,00   0,34%
  • IDX 7.200   -162,17   -2,20%
  • KOMPAS100 1.000   -21,00   -2,06%
  • LQ45 736   -15,32   -2,04%
  • ISSI 252   -7,16   -2,76%
  • IDX30 393   -7,32   -1,83%
  • IDXHIDIV20 489   -8,23   -1,66%
  • IDX80 112   -2,39   -2,08%
  • IDXV30 132   -1,91   -1,42%
  • IDXQ30 127   -2,10   -1,62%

Purbaya Santai Hadapi Investigasi Perdagangan AS, Asal Tarif Tidak Diskriminatif


Jumat, 13 Maret 2026 / 13:22 WIB
Purbaya Santai Hadapi Investigasi Perdagangan AS, Asal Tarif Tidak Diskriminatif
ILUSTRASI. Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat jumpa pers APBNKita (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Dendi Siswanto | Editor: Herlina Kartika Dewi

KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan tidak mempermasalahkan rencana investigasi perdagangan yang akan dilakukan oleh United States Trade Representative (USTR) terhadap Indonesia. 

Menurutnya, investigasi semacam itu merupakan hal yang lumrah dalam hubungan dagang antarnegara.

"Investigasi itu hal yang biasa," ujar Purbaya kepada awak media di Jakarta, Jumat (13/3/2026).

Baca Juga: Soal Pelebaran Defisit Anggaran, Purbaya: Kalau Ada Perintah Presiden, Kita Jalankan

Ia menjelaskan bahwa Indonesia secara alami memiliki keunggulan komparatif dibanding Amerika Serikat, terutama karena biaya tenaga kerja yang lebih rendah sehingga produk Indonesia cenderung lebih murah. 

Kondisi inilah yang membuat neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus terhadap AS, dan hampir pasti memicu perhatian dari pihak Amerika.

Menyoal ancaman kenaikan tarif yang kerap dikaitkan dengan status surplus perdagangan suatu negara terhadap AS, Purbaya menegaskan bahwa selama kenaikan tarif diberlakukan secara setara dengan negara-negara lain, Indonesia tidak akan terdampak secara signifikan. 

Namun ia mengingatkan, situasi akan menjadi jauh lebih berat apabila Indonesia dikenakan tarif yang lebih tinggi dibanding negara lain. Jika perbedaannya sampai 10%, menurutnya Indonesia akan menghadapi tekanan nyata. Meski begitu, ia menegaskan pemerintah siap melakukan langkah-langkah efisiensi jika kondisi memaksa.

"Tapi kita akan lakukan usaha efisiensi yang lain kalau memang terpaksa," katanya.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Purbaya tetap optimistis terhadap prospek perdagangan Indonesia ke depan. 

"Tapi harusnya prospeknya ke depan tidak terlalu buruk, bahkan dengan investigasi dari US Trade," pungkasnya.

Langkah AS ini dilakukan pada Rabu (11/3/2026), ketika pemerintahan Presiden Donald Trump meluncurkan penyelidikan praktik perdagangan tidak adil terhadap 16 mitra dagang utama.

Baca Juga: THR Presiden Prabowo Minimal Rp 62 Juta, Berapa Jatah Wapres Gibran?

Investigasi ini dilakukan berdasarkan Section 301 of the Trade Act of 1974, yang memberi kewenangan bagi U.S. Trade Representative untuk menjatuhkan tarif atau tindakan balasan lain terhadap negara yang dianggap menerapkan praktik perdagangan tidak adil.

Pemerintah AS menilai kebijakan perdagangan dari 16 negara tersebut merugikan produsen barang AS.

Hampir seluruh negara yang diselidiki mencatat surplus perdagangan barang terhadap AS. Data dari U.S. Census Bureau menunjukkan beberapa negara memiliki surplus besar pada 2025, dengan Uni Eropa US$ 235,9 miliar dan China US$ 295,5 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×